Tampilkan postingan dengan label Farmasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Farmasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Agustus 2016

Pengertian Laboratorium Farmas



PENGERTIAN LABORATORIUM FARMASI

Keterpaduan antara teori dan praktek pada mata kuliah di program studi farmasi menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Laboratorium farmasi didesain guna menunjang teori sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman dan ketrampilan praktek yang nantinya menjadi bekal dalam menjalankan profesi kefarmasian yang lebih berkeunggulan di farmasi komunitas. Selain itu juga di farmasi klinik dan farmasi industri ataupun farmasi industri bahan alam.
Laboratorium di Program Studi Farmasi diantaranya terdapat:

1.     LABORATORIUM PRESKRIPSI “APOTEK PENDIDIKAN”

Laboratorium ini secara keseluruhan didesain seperti sebuah apotek yang memungkinkan mahasiswa dapat melakukan simulasi secara lengkap tentang segala aktivitas di dalam apotek, termasuk disediakan tempat khusus bagi pasien untuk berkonsultasi dengan apoteker. Simulasi apotek ini dilakukan pada Praktikum Preskripsi III. Laboratorium Preskripsi merupakan laboratorium formulasi dasar sediaan farmasi. Laboratorium ini juga dipergunakan untuk peracikan sediaan obat bentuk padat (termasuk pil dan supositoria), bentuk semisolida, dan bentuk likuida dalam skala apotek yang ada dalam Praktikum Preskripsi I dan Preskripsi II.

2.     LABORATORIUM KIMIA TERPADU II

Laboratorium Kimia Terpadu II menyediakan alat dan instrumen analisis diantaranya yaitu spektrofotometri ultraviolet-visibel, rotavapor, pH meter, potensiometer, oven, furnace, melting point app., ekstraktor, analytical balance dan lain-lain. Laboratorium Kimia Terpadu II juga dilengkapi dengan fasilitas baik bahan-bahan kimia maupun alat-alat gelas. Laboratorium ini digunakan untuk berbagai praktikum mahasiswa, diantaranya: Praktikum Kimia Analisis, Kimia Farmasi Analisis, Kimia Organik, Biokimia, Farmakokinetika dan Fitokimia. Laboratorium Kimia Terpadu II juga membuka peluang bagi mahasiswa atau dosen di luar farmasi untuk melakukan praktikum atau penelitian baik dari lingkungan UMM maupun dari luar UMM.

3.     LABORATORIUM FORMULASI SEDIAAN FARMASI

Laboratorium Formulasi Sediaan Farmasi adalah salah satu laboratorium yang khas bagi Farmasi. Laboratorium ini merupakan miniatur dari industri farmasi sehingga mahasiswa dapat berlatih membuat formula sediaan farmasi, membuat sediaan farmasi sampai tahap pengujian sediaan farmasi sehingga sediaan farmasi siap beredar di pasaran. Praktikum yang diselenggarakan, diantaranya: Praktikum Farmasetika Sediaan Solida, Farmasetika Sediaan Likuida dan Sediaan Semisolida, dan Farmasetika Sediaan Obat Tradisional. Fasilitas yang tersedia mulai dari alat pengecilan ukuran bahan baku obat dan bahan tambahan, alat pencampuran, alat pengeringan, dan mesin cetak tablet. Selain itu juga tersedian berbagai alat untuk evaluasi sediaan farmasi, seperti: alat untuk uji kekerasan tablet, uji kerapuhan tablet, uji disintegrasi, dan uji disolusi agar sediaan farmasi yang dihasilkan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dalam Farmakope Indonesia.

4.     LABORATORIUM FORMULASI SEDIAAN STERIL

Laboratorium ini khusus dipergunakan untuk pembuatan produk-produk steril, seperti bentuk sediaan: infus, injeksi dalam bentuk vial dan ampul, maupun sediaan lain yang harus steril seperti obat tetes mata, salep mata.  Laboratorium Formulasi Sediaan Steril ini didesain sesuai dengan kaidah industri farmasi steril, dimana berdasarkan tingkat sterilitasnya terdiri dari ruang kelas IV hingga I. Praktikum yang diselenggarakan di laboratorium ini adalah Praktikum Farmasetika Sediaan Steril.

5.     LABORATORIUM FARMAKOGNOSI

Laboratorium Farmakognosi menyediakan fasilitas yang memadai diataranya jumlah mikroskop yang tersedia sesuai dengan jumlah peserta mata kuliah dalam satu kelas praktikum.Laboratorium Farmakognosi digunakan untuk melatih mahasiswa dalam menganalisis sediaan obat tradisional secara mikroskopis. Laboratorium ini digunakan untuk Praktikum Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan dan Praktikum Farmakognosi.


Share:

Dasar - Dasar Ilmu Farmasi dan Cara Mencampurkan Obat



DASAR-DASAR ILMU FARMASI 

Farmasi berasal dari kata “PHARMACON”  yang berarti obat atau racun. Sedangkan pengertian farmasi adalah suatu profesi di bidang kesehatan yang meliputi kegiatan-kegiatan di bidang penemuan , pengembangan, produksi, pengolahan, peracikan, informasi obat dan distribusi obat. Ilmu farmasi awalnya berkembang dari para tabib dan pengobatan tradisional yang berkembang di Yunani, Timur- Tengah, Asia kecil, Cina, dan Wilayah Asia lainnya. Mulanya ilmu “ilmu pengobatan” di miliki oleh orang tertentu secar turun temurun dari keluarganya. 
Di Yunani sendiri yang sering di anggap sebagai Tabib adalah pendeta. Dalam legenda kuno Yunani, Asclepius, Dewa pengobatan  menugaskan Hygieia untuk meracik campuran obat yang ia buat. Oleh masyarakat Inggris Hygieia  disebut sebagi Apoteker (Inggris : Apothecary). Sedangkan di Mesir di mesir di bagi dalam dua pekerjaan, yaitu : yang mengunjungi orang sakit dan yang bekerja di kuil menyiapkan racikan obat.

Buku tentang bahan obat2an pertama kali ditulis di Cina sekitar 2735 SM, kemudian sekitar tahun 400 SM berdirilah sekolah kedokteran di Yunani. Salah seorang muridnya adalah Hipocrates yang menempatkan profesi tabib pada tataran etik yang tinggi. Ilmu farmasi secara perlahan berkembang. Di dunia Arab pada abad VIII, ilmu farmasi yang dikembangkan oleh para ilmuawan Arab menyebar luas sampai ke Eropa.

  • Definisi Campuran , kocok

1.    Definisi Campuran

Campuran adalah materi yang terdiri atas dua macam zat atau lebih dan masih memiliki sifat-sifat zat asalnya. Jika kita mencampur minyak dengan air, terlihat ada batas di antara kedua cairan tersebut.
Dari batasan mengenai pengertian campuran dapat diuraikan beberapa sifat dari campuran, Diantaranya :

a.    Terdiri dari dua jnis Zat tunggal atau lebih
b.    Komposisi campuran tidak tetap tapi bervariasi
c.    Sifat  Zat-Zat  pembentuk campuran  masih tampak  pada campuran  yang dibentuknya.
d.    Zat – Zat pembentuk campuran dapat dipisahkan secara fisis.

Jenis-jenis Campuran, Dapat dibedakan  menjadi  2 ( Dua ) Yaitu :

a. Campuran Homogen adalah campuran yang seluruh bagiannya mempunyai perbandingan komponen yang sama sehingga sangat sulit untuk membeda-bedakan komponen zat penyusunnya. Contoh campuran Homogen adalah larutan.
b.  Campuran Heterogen adalah campuran yang perbandingan komponen disetiap bagiannya tidak sama sehingga masih dapat dibedakan zat-zat penyusunnya. Contoh campuran Heterogen adalah Suspensi.

Secara khusus campuran dapat dibedakan  ke dalam  3 bentuk yaitu :

a.    Larutan 
Larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat. Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut zat terlarut , sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lainnya dalam larutan disebut pelarut.  Komposisi zat terlarut dan pelarut dalam larutan dinyatakan sebagai konsentrasi larutan. Contoh larutan:

·         Larutan garam adalah campuran homogen dari garam dalam air
·         Larutan gula adalah campuran homogen dari gula dalam air
·         Larutan oralit adalah campuran homogen dari gula dan garam dalam

b.    Suspensi 
Suspensi adalah campuran heterogen dari zat padat dalam zat cair dimana terbentuk sedimentasi sehingga batas antar komponen dapat dibedakan tanpa perlu menggunakan mikroskop. Suspensi tampak keruh dan zat yang tersuspensi lambat laun terpisah karena gravitasi dan membentuk sedimentasi.Contoh suspensi:
·         Campuran kapur dan air
·         Campuran kopi dan air

c.    Koloid 
Koloid adalah campuran yang keadaannya terletak antara larutan dan suspensi. Koloid merupakan bentuk campuran (sistem dispersi) dua atau lebih zat yang bersifat homogen namun memiliki ukuran partikel terdispersi yang cukup besar (1 - 100 nm), sehingga terkena efek Tyndall. Namun karena koloid merupakan campuran homogen maka partikel terdispersi tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi sehingga tidak terbentuk sedimentasi (endapan). Contoh Koloid:
·         Susu, adalah koloid teremulsi dari lemak susu dalam air
·         Lem  kanji adalah koloid gel dari pati dan air yang dipanaskan

2.    Definisi kocok
·          mengguncang(-guncang)
·         Mencampur adukkan

3.    Definisi Campuran kocok
Mixtura agitanda ( Campurn kocok ) adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut dalam cairanpembawa, sehingga cepat mengendap. Pada umumnya untuk pemakaian luar (topikal) dan dihindaripenambahan stabilisator PGA(Pulvis gummi arabicium), tragakant.
  • Emulsi

Pengertian Emulsi

Emulsi adalah sediaan  yang  mengandung  bahan obat  cair  atau  cairan obat terdispersi dalam cairan pembawa distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok. Merupakan sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi  dalam cairan  yang  lain, dalam bentuk  tetesan kecil. yang berukuran 0,1-100 mm, yang distabilkan dengan emulgator/surfaktan yang cocok.

Emulsi berasal dari kata emulgeo yang artinya menyerupai milk, warna emulsiadalah putih.Emulsi dapat dibedakan dalam 2 bentuk yaitu: Emulsi Vera (emulsialam), dibuat dari biji atau buah, dimana terdapat disamping minyak lemak jugaemulgator yang biasanya merupakan zat seperti putih telur. Dan emulsi spuria (emulsibuatan) yang  terbentuk  karena  penambahan  emulgator  dari  luar.
Emulsi dibuat untuk diperoleh suatu preparat yang stabil dan rata dari campurandua cairan yang saling  tidak bisa bercampur.  Tujuan  pemakaian emulsi adalah :

a)   Dipergunakan sebagai obat dalam/ peroal. Umumnya emulsi tipe O/W.
b)   Dipergunakan sebagai obat  luar. Bisa  tipe O/W  maupun  W/O  tergantung  banyak  faktor                 misalnya sifat zat atau jenis efek terapi yang  dikehendaki
  • Tipe Emulsi

Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupuneksternal, maka emulsi digolongkan menjadi dua macam yaitu :

a)      Emulsi tipe O/W (oil in water) atau M/A (minyak dalam air).Adalah emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar kedalam air.Minyak sebagai fase internal dan air fase eksternal.
b)    Emulsi tipe W/O (water in oil) atau A/M (air dalam minyak)

Teori Terjadinya Emulsi

a)    Teori Tegangan Permukaan ( Surface Tension )

Daya kohesi suatu zat selalu sama, sehingga pada permukaan suatu zat cair akanterjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseimbangan daya kohesi. Tegangan yang terjadi pada permukaan tersebut dinamakan tegangan permukaan. Semakin tinggi perbedaan  tegangan yang terjadi pada bidang mengakibatkan antara kedua zatcair itu semakin susah untuk bercampur. Tegangan yang terjadi pada air akanbertambah dengan penambahan garam-garam anorganik atau senyawa-senyawaelektrolit, tetapi akan berkurang dengan penambahan senyawa organik tetentu antaralain sabun. Didalam teori ini dikatakan bahwa penambahan emulgator akan menurunkandan menghilangkan tegangan permukaan yang  terjadi pada bidang batas sehingga antara kedua zat cair tersebut akan mudah bercampur

b)   Teori Orientasi Bentuk Baji (Oriented Wedge)

Setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua kelompok yakni :Kelompok hidrofilik yaitu bagian dari emulgator yang suka pada air, dan kelompok lipofilik yaitu bagian yang suka pada minyak.

c)    Teori Interparsial Film

Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air danminyak, sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase dispers.Dengan terbungkusnya partikel tersebut maka usaha antara partikel yang sejenis untuk bergabung menjadi terhalang. Dengan kata lain fase dispers menjadi stabil. Untuk memberikan stabilitas maksimum pada emulsi, syarat emulgator yang dipakai adalah :

·    Dapat membentuk lapisan film yang kuat tapi lunak.
·    Jumlahnya cukup untuk menutup semua permukaan partikel fase dispers.
·    Dapat membentuk lapisan film dengan cepat dan dapat menutup semuapermukaan partikel dengan      segera.

d)    Teori Electric Double Layer (lapisan listrik ganda)

Jika minyak terdispersi kedalam air, satu lapis air yang langsung berhubungandengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis, sedangkan lapisan berikutnyaakan bermuatan yang berlawanan dengan lapisan didepannya. Dengan demikianseolah-olah tiap partikel minyak dilindungi oleh dua benteng lapisan listrik yangsaling berlawanan. Benteng tersebut akan menolak setiap usaha dari partikel minyak yang akan menggandakan penggabungan menjadi satu molekul besar. Karena susunanlistrik yang menyelubungi sesama partikel akan tolak menolak dan stabilitas emulsiakan bertambah. Terjadinya muatan listrik disebabkan oleh salah satu dari ketiga caradibawah ini.
·         Terjadinya ionisasi dari molekul pada permukaan partikel.
·         Terjadinya absorpsi ion oleh partikel dari cairan disekitarnya.
·         Terjadinya gesekan partikel dengan cairan disekitarnya.

Bahan Pengemulsi (Emulgator)

Terbagi menjadi dua yaitu emulgator alam dan emulgator buatan.Emulgator buatan, seperti:
a.    Sabun
b.    Tween 20; 40; 60; 80
c.    Span 20; 40; 80

Emulgator alam adalah emulgator yang diperoleh dari alam tanpa proses yang rumit. Dapat digolongkan menjadi tiga golongan:

1.    Emulgator alam dari tumbuh-tumbuhan
Bahan-bahan karbohidrat: bahan-bahan alami seperti akasia (gom), tragakan, agar, kondrus dan pectin. Bahan-bahan ini membentuk koloid hidrofilik bila ditambahkan kedalam air dan umumnya menghasilkan emulsi m/a.
a.    Gom arab
b.    Tragacanth
c.     Agar-agar
d.     Chondrus
e.    Emulgator lain, seperti: pektin, metil selulosa, CMC 1-2 %.

2.     Emulgator alam dari hewan

Zat-zat protein seperti: gelatin, kuning telur, kasein, dan adeps lanae. Bahan-bahan ini menghasilkan emulsi tipe m/a. kerugian gelatin sebagai suatu zat pengemulsi adalah sediaan menjadi terlalu cair dan menjadi lebih cair pada pendiaman.

3.    Emulgator alam dari tanah mineral
Zat padat yang terbagi halus, seperti: tanah liat koloid termasuk bentonit, magnesium hidroksida dan aluminium hidroksida. Umumnya membentuk emulsi tipe m/a bila bahan padat ditambahkan ke fase air jika jumlah volume air lebih besar dari minyak. Jika serbuk bahan padat ditambahkan dalam inyak dan volume fase minyak lebih banyak dari air, suatu zat seperti bentonit sanggup membentuk suatu emulsi a/m. Selain itu juga terdapat Veegum / Magnesium Aluminium Silikat

Cara Pembuatan Emulsi

 Dikenal  3 ( tiga ) metode dalam pembuatan emulsi yaitu :

1.    Metode gom kering

Disebut pula metode continental dan metode 4;2;1. Emulsi dibuatdengan jumlah komposisi minyak dengan ½ jumlah volume air dan ¼ jumlahemulgator. Sehingga diperoleh perbandingan 4 bagian minyak, 2 bagian airdan 1 bagian emulgator. Pertama-tama gom didispersikan kedalam minyak,lalu ditambahkan air sekaligus dan diaduk /digerus dengan cepat dan searah hingga terbentuk korpus  
emulsi.

2.    Metode gom  basah

Disebut pula sebagai metode Inggris, cocok untuk penyiapan emulsidengan musilago atau melarutkan gum sebagai emulgator, dan menggunakanperbandingan 4;2;1 sama seperti metode gom kering. Metode ini dipilih jikaemulgator yang digunakan harus dilarutkan/didispersikan terlebuh dahulukedalam air misalnya metilselulosa. 1 bagian gom ditambahkan 2 bagian airlalu diaduk, dan minyak ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk dengan cepat.3.

3.    Metode botol

Disebut pula metode Forbes. Metode inii digunakan untuk emulsi daribahan-bahan menguap dan minyak-minyak dengan kekentalan yang rendah.Metode ini merrupakan variasi dari metode gom kering atau metode gombasah. Emulsi terutama dibuat dengan pengocokan kuat dan kemudiandiencerkan dengan fase luar.Dalam botol kering, emulgator yang digunakan ¼ dari jumlah minyak.Ditambahkan dua bagian air lalu dikocok kuat-kuat, suatu volume air yangsama banyak dengan minyak ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terusdikocok, setelah emulsi utama terbentuk, dapat diencerkan dengan air sampai volume yang  tepat.

4.    Metode Penyabunan In Situa.

a.       Sabun Kalsium
Emulsi a/m  yang  terdiri dari  campuran  minyak  sayur  dan air jeruk,yang dibuat dengan sederhana yaitu mencampurkan minyak dan air dalam jumlah yang sama dan dikocok kuat-kuat. Bahan pengemulsi, terutama kalsium oleat, dibentuk secara in situ disiapkandari minyak sayur  alami  yang  mengandung asam lemak bebas.

b.      Sabun Lunak 
Metode ini, basis di larutkan dalam fase air dan asam lemak dalam fase minyak. Jika perlu, maka bahan dapat dilelehkan,komponen tersebut dapat dipisahkan dalam dua gelas beker dandipanaskan hingga meleleh, jika kedua fase telah mencapaitemperature yang sama, maka fase eksternal ditambahkan kedalam faseinternal dengan pengadukan.

c.        Pengemulsi Sintetik 
Secara umum, metode ini sama dengan metode penyabunan insitu dengan menggunakan sabun lunak dengan perbedaan bahwa  bahan pengemulsi ditambahkan pada fase dimana ia dapat lebih melarut.Dengan perbandingan untuk emulsifier 2-5%. Emulsifikasi tidak terjadi secepat metode penyabunan.

5.    Cara Membedakan Tipe Emulsi

·         Test Pengenceran  Tetesan
Metode ini berdasarkan prinsip bahwa suatu emulsi akan bercampur denganyang menjadi fase luarnya. Misalnya suatu emulsi tipe m/a, maka emulsi iniakan mudah diencerkan dengan penabahan air. Begitu pula sebaliknya dengan tipe a/m.

·         Test Kelarutan Pewarna
Metode ini berdasarkan prinsip keseragaman disperse pewarna dalam emulsi , jika pewarna larut dalam fase luar dari emulsi. Misalnya amaranth, adalahpewarna yang larut air, maka akan terdispersi seragam pada emulsi tipe m/a.Sudan III, adalah pewarna yang larut minyak, maka akan terdispersi seragam pada emulsi tipe a/m.

·         Test Creaming (Arah Pembentukan Krim)
Creaming adalah proses sedimentasi dari tetesan-tetesan terdispersi berdasarkan densitas dari fase internal dan fase eksternal. Jika densitas relativedari kedua fase diketahui, pembentukan arah krim dari fase dispers dapat menunjukkan tipe emulsi yang ada. Pada sebagian besar system farmasetik,densitas fase minyak atau lemak kurang dibandingkan fase air; sehingga, jika erjadi krim pada bagian atas, maka emulsi tersebut adalah tipe m/a, jika emulsi krim terjadi pada bagian bawah, maka emulsi tersebut merupakan tipea/m.

·         Test Konduktivitas Elektrik 
Metode ini berdasarkan prinsip bahwa air atau larutan berair mampu menghantarkan listrik, dan minyak tidak dapat menghantarkan listrik. Jikasuatu elektroda diletakkan pada suatu system emulsi, konduktivitas elektrik tampak, maka emulsi tersebut tipe m/a, dan begitu pula sebaliknya pada emulsi tipe  a/m.

·         Test Fluorosensi
Sangat banyak minyak yang dapat berfluorosensi jika terpapar sinar ultraviolet. Jika setetes emulsi di uji dibawah paparan sinar ultra violet dan diamati dibawah mikroskop menunjukkan seluruh daerah berfluorosensi maka tipe emulsi  itu adalah a/m, jika emulsi tipe m/a, maka fluorosensi hanya berupanoda.

6.    Kestabilan Emulsi

Emulsi dikatakan tidak stabil bila mengalami hal-hal seperti dibawah ini :

a.    Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan, dimana yang satumengandung fase dispers lebih banyak daripada lapisan yang lain. Creamingbersifat reversibel artinya bila dikocok perlahan-lahan akan terdispersikembali
b.    Koalesen dan cracking (breaking) yaitu pecahnya emulsi karena film yangmeliputi partikel rusak dan butir minyak akan koalesen (menyatu). Sifatnyairreversibel (tidak bisa diperbaiki)
  • SUSPENSI

Pengertian Suspensi

Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halusdan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus,tidak boleh cepat mengendap, dan bila digojog perlahan-lahan endapan harus segeraterdispersi kembali. Dapat ditambahkan zat tambahan untuk menjaminb stabilitas suspensi tetapi kekentalan suspensi harus menjamin sediaan mudah digojog dand i tuang.

Suspensi terdiri dari beberapa jenis yaitu :

a.    Suspensi Oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat yangterdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai danditujukkan untuk penggunaan oral.

b.    Suspensi Topikal adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukkan untuk penggunaan padakulit.

c.   Suspensi Optalmik adalah sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa yang ditujukkan untuk penggunaan pada mata. Suspensi obat mata harus steril dan zat yang terdisprsi harus sangat halus, bila untuk dosis ganda harus mengandung bakterisida.

d. Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair yang mengandung partikel-partikel halus yang ditujukkan untuk diteteskan pada telinga bagian luar.

e.   Suspensi untuk injeksi adalah sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikan secara intravena atau kedalam saluran spinal. Suspensi harus steril, mudah disuntikkan dan tidak menyumbat jarum suntik.

f.  Suspensi untuk injeksi terkontinyu adalah sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa  yang sesuai.

Stabilitas Suspensi
Salah satu problem yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara  memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari pertikel. Cara tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. Beberapa faktor yang mempengaruhi stabiltas suspensi adalah :

a.    Ukuran Partikel
Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta daya tekan keatas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikelmerupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. Sedangkan antarluas penampang dengan daya tekan keatas merupakan hubungan linier. Artinyasemakin besar ukuran partikel maka semakin kecil luas penampangnya

b.    Kekentalan / Viskositas
Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut, makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil).Apabila didalam suatu ruangan berisi partikel  dalam  jumlah  besar, maka partikel tersebut akan susah melakukan gerakan yang bebas karena sering terjadi benturan antara partikel tersebut. Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya endapan dari zat tersebut, oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel, makin besar kemungkinan terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat.

c.    Sifat/Muatan Partikel
Dalam suatu suspensi kemungkinan besar  terdiri dari beberapa macam campuran bahan yang sifatnya tidak terlalu sama. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi  interaksi  antar  bahan  tersebu t yang  menghasilkan bahan yang  sukar larut dalam cairan tersebut. Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat  alami, maka kita tidak dapat mempengruhi.Ukuran partikel dapat diperkecil dengan menggunakan pertolongan mixer,homogeniser, colloid mill dan mortir. Sedangkan viskositas fase eksternal dapatdinaikkan dengan penambahan zat pengental yang dapat larut kedalam cairan tersebut. Bahan-bahan pengental ini sering disebut sebagai suspending agent(bahan pensuspensi), umumnya besifat mudah berkembang dalam  air(hidrokoloid).

Bahan Pensuspensi

Bahan pensuspensi atau suspending agent dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu:

a.     Bahan pensuspensi dari alam.
Bahan pensuspensi dari alam yang biasanya digunakan adalah jenis gom/ hidrokoloid. Gom dapat larut atau mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk mucilago atau lendir. Dengan terbentuknya mucilago maka viskositas cairan tersebut bertambah dan akan menambah stabilitas suspensi. Kekentalan mucilago sangat dipengaruhi oleh panas, PH, danproses fermentasi bakteri.
· Termasuk golongan gom, antara  lain:Acasia ( Pulvis gummi arabici), Chondrus, Tragacanth , Alginb.

·  Golongan bukan gom, antara  lain: Bentonit, Hectorit dan Veegum.

b.     Bahan pensuspensi sintesisa.
·  Derivat Selulosa, antara lain:Metil selulosa, karboksi metil selulosa (CMC), hidroksi metil selulosa.
·  Golongan organk polimer, antara lain:Carbaphol  934

Cara Mengerjakan Obat Dalam Suspensi

a.    Metode pembuatan suspensi :
Suspensi dapat dibuat dengan cara :
·         Metode Dispersi
·         Metode Precipitasi

b.    Sistem pembentukan suspensi :
·         Sistem flokulasi
·         Sistem deflokulasi

  Secara umum sifat-sifat dari partikel flokulasi dan deflokulasi adalah :
a.    Deflokulasi
·   Partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang  lain.
·  Sedimentasi yang terjadi lambat masing-masing patikel mengendap  terpisah dan ukuran partikel adalah minimal.
·   Sediaan terbentuk lambat.
·   Diakhir sedimen akan membentuk cake yang keras dan sukar terdispersi  lagi.

b.    .Flokulasi
·   Partikel merupakan agregat yang basa
·  Sedimentasi terjadi begitu cepat
· Sedimen tidak membentuk cake yang keras dan padat dan mudah terdispersi kembali seperti semula.

Penilaian Stabilitas Suspensi

a.     Volume sedimentasi
Adalah Suatu rasio dari volume sedimentasi akhir (Vu) terhadap volume mula-mula dari suspensi (Vo) sebelum mengendap.

b.     Derajat flokulasi
Adalah Suatu rasio volume sedimentasi akhir dari suspensi flokulasi (Vu) terhadap volume sedimentasi akhir suspensi deflokulasi (Voc).

c.    Metode reologi
Berhubungan dengan faktor sedimentasi dan redispersibilitas, membantu menemukan perilaku pengendapan, mengatur vehicle dan susunan partikel untuk tujuan perbandingan.

d.    Perubahan ukuran partikel
Digunakan cara Freeze-thaw cycling yaitu temperatur diturunkan sampai titik beku, lalu dinaikkan sampai mencair kembali. Dengan cara ini dapat dilihat pertumbuhan kristal, yang pokok menjaga tidak terjadi perubahan ukuran partikel dan sifat kristal.

Kesimpulan

Adapun kesimpulan darri pembahasan di atas adalah sebagai barikut :
1.    Mixtura agitanda ( Campurn kocok ) adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut dalam cairanpembawa, sehingga cepat mengendap. Pada umumnya untuk pemakaian luar (topikal) dan dihindaripenambahan stabilisator PGA(Pulvis gummi arabicium), tragakant.
2.    Emulsi adalah sediaan  yang  mengandung  bahan obat  cair  atau  cairan obat terdispersi dalam cairan pembawa distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok. Merupakan sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi  dalam cairan  yang  lain, dalam bentuk  tetesan kecil. yang berukuran 0,1-100 mm, yang distabilkan dengan emulgator/surfaktan yang cocok.
3.    Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halusdan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa.

Share:

Minggu, 31 Juli 2016

Pengantar Ilmu Farmasi Karya Ilmiah


Pengantar Ilmu Farmasi

Pengertian Farmasi | Kamus Webster mendefinisikan farmasi sebagai  seni atau praktis penyediaan, pengawasan, pencampuran dan pendistribusian obat-obatan". Kata Farmasi sendiri  berasal dari asal kata farmakon (Latin) yang berarti racun. Dalam pengelompokan ilmu pengetahuan, Stuart Chase, dalam bukunya  The Power Study of  Mankind menempatkan Farmasi sebagai bagian dari natural science.

Pembagian ilmu pengetahuan menurut Stuart Case:
Natural Science:

1. Biologi
2. Antropologi fisik
3. Kedokteran
4. Farmasi
5. Pertanian
6. Ilmu pasti
7. Ilmu alam
8. Ilmu teknik
9. Geologi
10. Dan lain sebaginya

Ilmu-Ilmu Kemasyarakatan:

1. Hukum
2. Ekonomi
3. Ilmu jiwa sosial
4. Ilmu bumi social
5. Sosiologi
6. Antropologi budaya dan sosial
7. Ilmu sejarah
8. Ilmu politik
9. Ilmu pendidikan
10. Publisitik dan jurnalistik
11. Dan lain sebagainya

Humaniora:

1. Ilmu agama
2. Filsafat
3. Bahasa
4. Seni
5. jiwa
6. Dan lain sebagainya

Sumbangan dunia farmasi terhadap dunia kesehatan sangatlah besar dengan ditemukannya berbagai obat dan system pengobatan yang rasional dengan mengutamakan unsur keselamatan pasien. Tanggungjawab yang dipikul oleh ahli farmasi menjadi semakin penting dengan pengembangan obat-obat baru hasil penyelidikan oleh para saintis. Tanggungjawab ini khusus berkaitan dengan penggunaan obat secara rasional dan perlindungan masyarakat daripada kemudaratan obat-obatan semasa menggunakannya.

Bidang kajian Farmasipun semakin berkembang,  Selain bidang yang telah dibahas sebagai bidang kajian di perguruan tinggi farmasi seperti bidang kimia farmasi, biologi farmasi, farmakologi, teknologi farmaseutik dan farmasi klinikal juga farmasi telah meluaskan kajiannya kepada bidang farmasi sosial yang melibatkan statistik, kemahiran komunikasi, farmako ekonomi, farmako epidemiologi, farmako informatik, perundangan, etika dan kebijakan.
Tepat tidaknya penempatan Farmasi sebagai natural science seperti yang diutarakan di atas akan kita lihat dari aspek-aspek yang melingkupi Farmasi sebagai sebuah displin ilmu, yaitu aspek ontology, epistomologi dan aksiologi.

Aspek Kajian Farmasi

Dari aspek ontology, objek yang dibahas dalam bidang farmasi sangatlah luas melibatkan dukungan displin ilmu lain seperti biologi, kimia, botani, fisika, sosial, ekonomi, hukum dan perundangan, seni serta matematika sebagai alat komunikasi (bahasa)  ilmu pengetahuan. Melihat kaitan-kaitan imu yang bertautan dengan farmasi dapat dikatakan bahwa farmasi tidak dapat dilepaskan dengan ilmu lainnya dari tiga kelompok besar: Natural science, ilmu-ilmu kemsyarakatan dan humaniora.

Dari ilmu botani yang merupakan cabang dari biologi dikembangkan pembahasan lebih lanjut mengenai sistematika dan morfologi tumbuhan, anatomi dan fisiologi tumbuhan. Kedua bahasan tersebut akan menunjang kepada penggalian tumbuh-tumbuhan sebagai obat baik dari identifikasi tanaman obat, kandungan kimia dan metode pemisahannnya. Bidang Farmasi dengan dasar ilmu botani ini dikembangkan lebih lanjut dalam ilmu farmakognosi, bahan alam farmasi dan fitokimia. Sementara biologi sendiri menjadi dasar bagi pembahasan dalam dunia farmasi menyangkut, anatomi dan fisiologi manusia, , mikrobiologi, parasitologi, farmakologi dan  bioteknologi.

Kimia sebagai ilmu dasar (basic science) juga merupakan penunjang utama  bagi ilmu farmasi. Beberapa reaksi kimia dipelajari secara mendalam terkait dengan proses pembuatan obat dan reaksi obat dalam tubuh. Kimia dasar membekali ilmu keahlian dasar seperti kimia analisis, kimia organik, kimia fisik dan biokimia.  Dari bidang yang dikategorikan keahlian dasar tersebut akan dipelajari lebih lanjut dalam bidang farmasi berupa Kimia Farmasi Analisis, Kimia Medisinal, dan kimia klinik.
Smentara itu Fisika, seperti halnya ilmu kimia menjadi dasar bagi pembahasan di bidang Farmasi khususnya dengan teknologi farmasi yang menyangkut sediaan danformulasi senyawa obat. Bidang bahasan di Farmasi yang terkait dengan fisika sebagai ilmu dasar adalah Farmasetika, Bio Farmasi, Farmako kinetik, Teknologoi Farmasi (liquid, semi solid dan solida).

Sementara itu bidang ilmu lainnya seperti ilmu sosial, ekonomi, antropologi dan hukum merupakan ilmu-ilmu yang tidak dapat dilepaskan dari bidang kajian Farmasi. Antropologi sangat terkait dengan perkembangan obat dan pengobatan modern. Ilmu sosial telah melahirkan apa yang disebut daengan farmasi sosial demikian pula ekonomi (farmako ekonomi). Semenatara ilmu hukum (dan perundangan) sangat erat dengan bidang kajian farmasi terutama dalam hubungannya yang mengatur profesi farmasis (apoteker)  dan produksi serta distribusi obat.

Bila disimpulkan objek bidang farmasi adalah meliputi:

1. Produk
1. Penelitian
2. Pengadaan
3. Pengawasan (Quality Qontrol)
4. Distribusi
5. Pengembangan produk
2. Pasien/Pengguna
1. Pelayanan Apotik
2. Pelayanan Rumah sakit

Kajian-kajian mengenai NATURAL SCIENCE pada dasarnya membekali calon farmasis dalam membuat suatu produk yang bermutu. Dan penggalian terhadap ilmu-ilmu kemasyarakatan dan humaniora pada intinya mempersiapkan farmasis untuk termapil dalam mengadakan pelayanan terhdap pasien/pengguna produk farmasis.

Dari aspek epistemology, metode yang digunakan dalam pembahasan ilmu farmasi menggunakan metode ilmiah yang bercirikan pada observasi, pengukuran, penjelasan dan verifikasi. Dengan berkembanganya ilmu farmasi seperti farmasi sosial dan farmasi ekonomi maka metode kajian farmasi akan bertambah sesuai dengan telaah dan model masalah yang dihadapi.

Aspek terakhir adalah, aspek aksiologi. Ilmu Farmasi dimaksudkan untuk membantu manusia tidak saja dalam mencarikan senyawa obat yang efektif dalam mencegah dan melawan penyakit tapi juga telah berkembang pada perawatan tubuh seperti kosmetik, dan kesehatan reproduksi, seperti alat-alat atau bahan kontrasepsi.

Dengan kata lain tujuan bidang  Farmasi adalah mengadakan pelayanan FARMASI YANG BERMUTU dan PRIMA.
Yang dimaksud bermutu adalah sesuai dengan standar dan kepuasan masyarakat. Sementara pelayanan yang PRIMA adalah bersikap responsive dan hasilnya melebihi harapan pengguna/pelanggan.

Sementra itu outcome bidang farmasi adalah berupa pengelolaan terapi obat yang berjalan dengan optimal dan peningkatan kualitas hidup pasien atau pengguna.

Dasar Keilmuan

Dasar keilmuan farmasi dapat dibedakan menjadi
Ilmu-Ilmu Dasar :

Matematika
Fisika
Kimia
Biologi
Dll

Ilmu Dasar Keahlian :

Kimia Fisik
Kimia Organik
Biokimia Umum
Morfologi dan sistematika tumubuhan
Anatomi Fisiologi manusia
dll

Ilmu Keahlian Farmasi :

Mikrobiologi Farmasi
Farmakognosi-Fitokimia
Teknologi Sediaan Farmasi
Farmakologi
Imunologi
Kimia Farasi
Kimia Medisinal
Teknologi Pangan
Kosmetik
Dll

 Ilmu Penunjang :

Ilmu-ilmu social kemasyarakatan
Peraturan dan Perundangan
Etika
Management
Dll

 Bidang Keahlian FARMASI

Kelompok Bidang keahlian (KBK) di farmasi atau disebut juga unit bidang ilmu farmasi, didasarkan kepada keterkaitan masing-masing bidang kajian. Adapun dalam praktik di perguruan tinggi biasanya juga diperhitungkan variabel sumber daya manusia dan kelengkapan laboratorium sebagai basis pengembangan KBK.

Ada empat kelompok bidang keahlian/pembidangan di FARMASI seperti yang diterapkan di Institut Teknologi Bandung dan Farmasi Universitas Padjdjaran BANDUNG , yaitu:

1. KBK Kimia Farmasi
2. KBK Farmakologi
3. KBK Framakognosi-Fitokimia
4. KBK Teknologi Farmasi

Pembagian di atas memang tidak baku dan masih ada beberapa penggolongan seperti yang diterapkan di Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada:

1. KBK Biologi Farmasi
2. KBK Kimia Farmasi
3. KBK Farmasetika

Hal ini juga berbeda dengan yang dikembangkan di Universitas Kebangsaan Malaysia, yang telah mengadopsi bidang keahlian yang relatif baru seperti Farmasi Rumah sakit, Farmasi Sosial dan Pemerintahan  :

1. Farmasi Hospital
2. Farmasi Komuniti
3. Industri Farmaseutikal
4. Akademia
5. Lain-lain (peraturan dan perundangan, farmasi sosial dan ekonomi, dll)

------oooo------


Share:

Dasar - Dasar Ilmu Farmasi (Ilmu Farmasi Dan Perkembangannya)


Pengertian  Farmasi

Secara bahasa, Farmasi dalam bahasa Yunani yaitu pharmacon, yang berarti obat, sedangakan dalam bahasa Inggris pharmacy yang juga berarti obat.
Farmasi adalah ilmu yang mempelajari cara membuat, mencampur, meracik, memformulasi, mengobinasi, menganalisis, serta menstandarkan obat dan pengobatan juga sifat-sifat obat beserta pendistribusian dan penggunaannya secara aman.Farmasi dalam bahasa Yunani(Greek) disebut farmakon yang berarti medika atau obat.

Menurut wikipedia bahasa Indonesia dijelaskan bahwa Farmasi merupakan salah satu bidang profesional kesehatan yang merupakan kombinasi dari ilmu kesehatan dan ilmu kimia, yang mempunyai tanggung-jawab memastikan efektivitas dan keamanan penggunaan obat. Ruang lingkup dari praktik farmasi termasuk praktik farmasi tradisional seperti peracikan dan penyediaan sediaan obat, serta pelayanan farmasi modern yang berhubungan dengan layanan terhadap pasien (patient care) di antaranya layanan klinik, evaluasi efikasi dan keamanan penggunaan obat, dan penyediaan informasi obat.

Batasan farmasi menurut kamus adalah seni dan ilmu meracik dan menyerahkan atau membagikan obat. Dengan demikian berarti bahwa kedua konsep farmasi dan farmasis adalah kongruen, yakni yang satu dapat diturunkan dari yang lainnya.
Farmasi juga biasa diartikan seni atau praktek penyiapan, pengawetan, peracikan, dan penyerahan obat,(webster’ New Collegiate Dictionary. Springfield, MA, G, & C. Merriam Co, 1987).

  • Sejarah Perkembangan Farmasi

Sejak dahulu nenek moyang bangsa Indonesia telah mengenal penggunaan obat tradisional (jamu) dan pengobatan secara tradisional (dukun). Pada zaman itu sebenarnya dukun melaksanakan dua profesi sekaligus, yaitu profesi kedokteran, (mendiagnose penyakit) dan profesi kefarmasian (meramu dan menyerahkan obat kepada yang membutuhkannya).

Ilmu farmasi awalnya berkembang dari para tabib dan pengobatan tradisional yang berkembang di Yunani, Timur-Tengah, Asia kecil, Cina, dan Wilayah Asia lainnya. Mulanya "ilmu pengobatan" dimiliki oleh orang tertentu secara turun-temurun dari keluarganya. Bila kamu sering nonton film Cina, pasti banyak kalian lihat para tabib yang mendapatkan ilmunya dari keluarga secara turun-temurun. Itu gambaran "ilmu farmasi" kuno di Cina. 
Kalau di Yunani, yang biasanya dianggap sebagai tabib adalah pendeta. Dalam legenda kuno Yunani, Asclepius, Dewa Pengobatan menugaskan Hygieia untuk meracik campuran obat yang ia buat. Oleh mmasyarakatt Yunani Hygiea disebut sebagai apoteker (Inggris : apothecary). Sedangkan di Mesir, paktek farmasi dibagi dalam dua pekerjaan, yaitu : Yang mengunjungi orang sakit dan yang bekerja di kuil menyiapkan racikan obat.

Penggunaan obat dapat ditelusuri sejak tahun 2000 S.M. pada zaman kebudayaan Mesir dan Babilonia telah dikenal obat dalam bentuk tablet tanah liat (granul), dan bentuk sediaan obat lain. Saat itu juga sudah dikenal ratusan jenis bahan alam yang digunakan sebagai obat. Pengetahuan tentang obat dan pengobatan selanjutnya berkembang lebih rasional pada zaman Yunani, ketika Hippocrates (460 S.M.) memperkenalkan metode dasar ilmiah dalam pengobatan. 

Dalam zaman Yunani itu dikenal pula Asklepios atau Aesculapius (7 S.M.) dan puterinya Hygeia. Lambang tongkat Asklepios yang dililiti ular saat ini dijadikan lambang penyembuhan (kedokteran), sedangkan cawan atau mangkok Hygeia yang dililiti ular dijadikan lambang kefarmasian.

Perkembangan profesi kefarmasian pada abad selanjutnya dilakukan dalam biara, yang telah menghasilkan berbagai tulisan tentang obat dan pengobatan dalam bahasa latin yang hampir punah itu, sampai saat ini dijadikan tradisi dalam penulisan istilah di bidang kesehatan. Perkembangan kefarmasian yang pesat pula telah terjadi dalam zaman kultur Arab dengan terkenalnya seorang ahli yang bernama al-Saidalani pada abad ke-9.

Namun demikian tonggak sejarah yang penting bagi farmasi ialah tahun 1240 di Sisilia, Eropa, ketika dikeluarkan surat perintah raja (edict) yang secara legal (menurut undang-undang) mengatur pemisahan farmasi dari pengobatan. Surat perintah yang kemudian dinamakan ”Magna Charta” dalam bidang farmasi itu juga mewajibkan seorang Farmasis melalui pengucapan sumpah, untuk menghasilkan obat yang dapat diandalkan sesuai keterampilan dan seni meracik, dalam kualitas yang sesuai dan seragam. ”Magna Charta” kefarmasian ini dikembangkan sampai saat ini dalam bentuk Kode Etik Apoteker Indonesia dan Sumpah Apoteker.

Perkembangan ilmu farmasi kemudian menyebar hampir ke seluruh dunia. Mulai Inggris, Amerika Serikat, dan Eropa Barat. Sekolah Tinggi Farmasi yang pertama didirikan di Philadelphia, Amerika Serikat pada tahun 1821 (sekarang sekolah tersebut bernama Philadelphia College of Pharmacy and Science). Setelah itu, mulailah era baru ilmu farmasi dengan bermunculannya sekolah-sekolah tinggi dan fakultas2 di universitas.

Peran organisasi keprofesian atau keilmuwan juga ditentukan perkembangan ilmu farmasi. Sekarang ini banyak sekali organisasi ahli farmasi baik lingkup nasional maupun internasional. Di Inggris, organisasi profesi pertama kali didirikan pada tahun 1841 dengan nama "The Pharmaceutical Society of Great Britain". Sedangkan, di Amerika Serikat menyusul 11 tahun kemudian dengan nama "American Pharmaceutical Association". Organisasi internasionalnya akhirnya didirikan pada tahun 1910 dengan nama "Federation International Pharmaceutical".

Sejarah industri farmasi modern dimulai 1897 ketika Felix Hoffman menemukan cara menambahkan dua atom ekstra karbon dan lima atom ekstra karbon dan lima atom ekstra hidrogen ke adlam sari pati kulit kayu willow. Hasil penemuannya ini dikenal dengan nama Aspirin, yang akhirnya menyebabkan lahirnya perusahaan industri farmasi modern di dunia, yaitu Bayer. Selanjutnya, perkembangan (R & D) pasca Perang Dunia I. Kemudian, pada Perang Dunia II para pakar berusaha menemukan obat-obatan secara massal, seperti obat TBC, hormaon steroid, dan kontrasepsi serta antipsikotika.

Sejak saat itulah, dunia farmasi  terus berkembang dengan didukung oleh berbagai penemuan di bidang lain, misalnya penggunaan bioteknologi. Sekolah-sekolah farmasi saat ini hampir dijumpai di seluruh dunia. Kiblat perkembangan ilmu, kalau bolehh kita sebut, memang Amerika Serikat dan Jerman (karena di sanalah industri obat pertama berdiri).

Bagaimana dengan perkembangan farmasi di Indonesia? Perkembangan farmasi boleh dibilang dimulai ketika berdirinya pabrik kina di Bandung pada tahun 1896. Kemudian, terus berjalan sampai sekitar tahun 1950 di mana pemerintah mengimpor produk farmasi jadi ke Indoneisa. Perusahaan-perusahaan lokal pun bermunculan, tercatat ada Kimia Farma, Indofarma, Biofarma, dan lainnya. Di dunia pendidikan sendiri, sekolah tinggi atau fakultas farmasi juga dibuka di berbagai kota.

  • Pemisahan Farmasi dan Kedokteran

Publich Pharmacies mulai muncul pada abad ke-17 di Negara-negara Eropa yang terkena pengaruh kebudayaan Arab. Namun di Sisilia dan Italia Selatan, Pemisahan Farmasi dari Kedokteran sudah dilakukan mulai tahun 1240 Masehi. Frederick II dari Hohenstaufen, merupakan Kaisar dari Jerman serta Raja dari Sisilia, adalah mata rantai yang hidup antara Budaya Oriental dan Occidental. Di Istananya di Palermo, ia menyajikan subjek Farmasi dengan dekrit Eropa pertama yang benar-benar memisahkan tanggung jawab Apoteker dari Bidang Kedokteran, dan Peraturan Resep untuk praktek professional Apoteker.

Sejak masa Hipocrates (460-370 SM) yang dikenal sebagai Bapak Ilmu Kedokteran, belum dikenal adanya istilah farmasis. Seorang dokter yang mendiagnosis penyakit sekaligus berperan sebagai “Apoteker” yang menyiapkan obat. Pada tahun 1240 M, Raja Jerman Frederick II memerintahkan pemisahan secara resmi antara Farmasi dan Kedokteran dalam dekritnya yang terkenal “Two Silices“. Dari sejarah ini, satu hal yang perlu direnungkan adalah bahwa akar ilmu farmasi dan ilmu kedokteran adalah sama. Walaupun kedua bidang ilmu ini memiliki akar yang sama, tapi pastilah terdapat perbedaan diantara keduanya sehingga Frederick II mengeluarkan kebijakan tersebut.

Jika kita berbicara tentang spesifikasi ilmu, bidang ilmu farmasi dapat dikelompokkan menjadi 4, yaitu: farmasi komunitas, farmasi klinik, farmasi industri dan farmasi regulatori (pendidikan dll). Keempat bidang ini memiliki spesifikasi tersendiri.

Farmasi komunitas yang dimaksud sering kita identikkan dengan kata “apoteker”. Perannya yang spesifik adalah bersentuhan langsung dengan pasien untuk menyerahkan obat (dispending) dan memberikan informasi dan edukasi yang benar tentang obat. Posisinya adalah sebagai rekan kerja dokter. Namun, baru-baru ini seperti kita tahu bahwa dokter sedang berusaha untuk mereformasi sistem dispensing (penyerahan) obat. Tak bisa kita sangkal juga bahwa pelayanan apoteker memang sangat kurang. Dalam hal ini yang patut mendapat sorotan utama bukanlah sistemnya, namun orang-orang yang berada dalam sistem tersebut.

Bidang farmasi industri dan regulatori bergerak pada pengembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi di bidang kefarmasian. Sepintas memang bidang ini seolah-olah hampir sama dengan bidang yang ditekuni oleh para ahli kimia. Namun tetap saja peran farmasi industri tidak dapat digantikan oleh para ahli kimia, karena dalam penelitian dan pengembangan obat dibutuhkan juga ilmu yang spesifik (misalnya farmakokinetik dll) dan ilmu ini idak dipelajari oleh sarjana yang lain.

Spesifikasi dari farmasi klinik berkaitan dengan analisis dan penegakan diagnosa suatu penyakit serta cara penanganannya. Pemahaman yang mendalam terhadap ilmu biokimia dan anatomi fisiologi manusia merupakan ilmu dasar yang sangat diperlukan pada bidang farmasi ini, namun diperlukan juga pengetahuan yang mendalam mengenai pengobatan dan obat (termasuk sampai pada tingkat molekuler), inilah salah satu hal yan membedakan sarjana farmasi dengan sarjana biokimia maupun biologi.

Dari pemaparan diatas terlihat jelas bahwa farmasis dan apoteker memiliki bidang ilmu yang spesik, yang membedakannya dengan bidang ilmu lainnya.

  • Asosiasi profesi

Untuk diakuinya keahlian keprofesian maka setiap profesi harus disertifikasi secara formal oleh suatu lembaga keprofesian yang berkaitan. Di negara kita sendiri terdapat suatu asosiasi khusus di bidang kefarmasian, lembaga ini dikenal dengan singkatan ISFI (Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia).

Dalam anggaran dasar ISFI disebutkan bahwa Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia merupakan satu-satunya organisasi para Apoteker Indonesia, yang merupakan perwujudan dari hasrat murni dan keinginan luhur para anggotanya, yang menyatakan untuk menyatukan diri dalam upaya mengembangkan profesi luhur kefarmasian di Indonesia pada umumnya dan martabat anggota pada khususnya. Sedangkan yang menjadi anggota dalam ISFI, 2 diantaranya adalah anggota muda (sarjana farmasi) dan apoteker.

Jika kita lihat fungsi dari ISFI sendiri mengacu pada seluruh seluruh oknum yang berkecimpung dalam bidang kefarmasian (pada poin a dan b yang ditekankan adalah apoteker, sedangkan poin c lebih mengarah pada seluruh oknum yang memberikan diri untuk mengembangkan bidang kefarmasian ). Namun jika kita analisis dari misi ISFI sendiri, seolah-olah yang lebih menjadi prioritas hanya apoteker.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah apoteker yang dimaksud hanya ahli-ahli farmasi yang berkecimpung di bidang farmasi komunitas ataukah para para ahli-ahli farmasi yang memiliki gelar apoteker? Apabila yang dimaksud dengan apoteker dalam keanggotaan ISFI adalah ahli-ahli farmasi yang berkecimpung di bidang farmasi komunitas dan sarjana farmasi yang akan berkecimpung di bidang yang sama, maka ahli farmasi diluar farmasi komunitas tidak layak disebut sebagai profesi, sebaliknya, bila yang dimaksud dengan apoteker (dalam keanggotaan ISFI) adalah seluruh ahli farmasi yang memiliki gelar apoteker (secara tidak langsung mengandung arti bahwa anggota muda yang dimaksud adalah seluruh sarjana farmasi) maka farmasis dan apoteker dapat disebut sebagai profesi.

  • Komitmen untuk mengasah diri dan mengabdi terhadap kepentingan umum.

Idealnya tenaga profesi adalah seorang yang berkomitmen untuk selalu mengasah diri dan mengabdi terhadap kepentingan umum. Jika kita analisis sejarah perkembangan farmasi secara umum terlihat bahwa bidang kefarmasian selalu berusaha untuk mengembangkan diri ke arah yang lebih baik. Bukti nyata dari usaha peningkatan pengabdian farmasi terhadap kepentingan umum adalah konsep kefarmasian yang diubah kearah patient oriented (Pharmaceutical care-asuhan kefarmasian).
  • Kesimpulan

Dari pemaparan diatas, secara umum farmasis dan apoteker memenuhi ketiga komponen diatas untuk dapat disebut sebagai profesi. Namun perlu juga digaris bawahi bahwa tidak semua farmasis dan apoteker bersikap sebagai seorang professional. Jadi kesimpulan yang lebih tepat adalah seseorang dikatatakan berprofesi sebagai farmasis dan atau apoteker apabila orang tersebut benar-benar memilkii pengetahuan yang spesifik mengenai bidang ilmu kefarmasian, merupakan anggota dari ISFI dan memiliki komitmen untuk selalu mengasah diri serta mengabdi kepada kepentingan umum.
  • Kritik dan Saran

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah ini oleh karena itu sangat diharapkan kritik maupun saran dari pembaca, untuk peyempurnaan pada makalah-makalah berikutnya.

Daftar Pustaka

Adjat Sakri (penyunting) (1985) “Ihwal Menerjemahkan”, Terbitan 2,
      Penerbit ITB Bandung.
Brown, B. Atkins, M. (1988) “ Effective Teaching in Higher Education”,
      Methuen, New York.
Webster’s New Collegiate Dictionary. SpringField, MA, G. & C. Merriam Co, 1987 ).
http://www.pengertiandefinisi.com/2011/11/pengertian -farmasi.html
http://www.penyusun-kajian1-2-bersama-farmasi-klinikdan-kedokteran-sebagai-peningkatan-kompetensi-dan-perwujudan-mekanisme-check-and-balance-dunia-kesehatan-indonesia.html

Share:

Jumat, 29 Juli 2016

Penyebab Gangguan Tubuh Karena Kekurangan Cairan dan Elektrolit



KONSEP DASAR KEBIDANAN
GANGGUAN TUBUH KARENA KELEBIHAN CAIRAN DAN ELEKTROL

  • Pengertian Cairan dan Elektrolit

Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh tetap sehat. Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah merupakan salah satu bagian dari fisiologi homeostatis. Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi dan perpindahan berbagai cairan tubuh.

Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air ( pelarut) dan zat tertentu (zat terlarut). Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan intravena (IV) dan didistribusi ke seluruh bagian tubuh.

Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya distribusi yang normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu dengan yang lainnya; jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh pada yang lainnya.

B.Faktor-faktor yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit
  • Umur

Karena usia akan berpengaruh pada luas permukaan tubuh,metabolism,dan berat badan.
  • Iklim

Orang yang tinggal di daerah yang panas(suhu tinggi) dan kelembaban udaranya rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan dan elektrolit melalui keringat.
  • Strees

Meningkatkan metabolisme sel,glukosa darah, dan pemecahan glikogen otot. Mekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan retensi air bila berkepanjangan dapat meningkatkan volume darah.
  • Diet

Ketika intake nutrisi tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak sehingga serum albumin dan cadanagn protein akan menurun,padahal keduanya sangat diperlukan dalam keseimbangan cairan yang menyebabkan edema.
  • Kondisi sakit


C. Gangguan tubuh karena kelebihan Cairan

Air merupakan bagian penting dalam tubuh manusia. Dalam tubuh, air berfungsi sebagai pengatur suhu tubuh, pelarut, bantalan sendi, dan membawa zat penting ke seluruh tubuh.
Konsumsi air pun tak boleh kekurangan maupun kelebihan karena dapat menganggu kesehatan. Berikut akibatnya jika kelebihan air, seperti dipaparkan dokter spesialis penyakit dalam-konsultan ginjal dan hipertensi, Parlindungan Siregar.Overhidrasi berbahaya bagi tubuh Anda, dampaknya bisa sampai pada kematian.

Asupan air tidak boleh berlebihan karena dalam keadaan normal, ginjal yang sehat hanya mampu mengeluarkan 400-600 ml air per jam.
Berlebihan minum air justru bisa menyebabkan hiponatremia atau kekurangan natrium dalam darah. Akibatnya, kesadaran bisa menurun dan tubuh terasa lemas.

Bahaya kelebihan air juga bisa terjadi pada seseorang yang melakukan olahraga berat. Menurut Parlin, kondisi ini pun bisa menyebabkan kematian. Orang yang melakukan olahraga berat juga disarankan tidak minum berlebihan saat olahraga. "Jadi kalau haus minum. Minumlah air seperlunya," imbuh Parlindungan.

Wanita disebut lebih rentan mengalami overhidrasi atau kelebihan cairan. Hal ini disebabkan karena wanita memiliki tubuh yang lebih kecil, sehingga pelepasan panas dan cairan tubuh melalui penguapan dan keringat lebih sedikit.

"Pada perempuan, cairan lebih banyak tertahan di dalam tubuh. Faktor perubahan hormonal seperti saat menstruasi juga membuat tubuh perempuan mempunyai kecenderungan menahan air," papar pakar fisiologi olahraga dari Departemen Fisiologi FKUI Ermita Ilyas di RSCM Jakarta.

Tipe dasar ketidakseimbangan cairan adalah sebagai berikut :

1. Ketidakseimbangan Isotonik
Kekurangan dan kelebihan isotonic dapat terjadi jika air dan elektronik diperoleh atau hilang dalam proporsi yang sama. Kadar elektrolit dalam serum tetap tidak berubah, kecuali terjadi ketidakseimbangan lain.

Klien yang beresiko mengalami ini adalah klien yang mengalami kehilangan cairan dan elektrolit melalui saluran gastrointestinal, misal akibat muntah, pengisap lambung, diare, atau fistula. Bayi dan lansia ( usia lanjut ) paling cepat terkena pengaruh akibat kehilangan cairan dan elektrolit ini (Weldy, 1992). Penyebab lain dapat meliputi perdarahan, pemberian obat-obat diuretic, keringat yang banyak, demam, dan penurunan asupan per oral.

Kelebihan volume cairan terjadi saat air dan natrium dipertahankan dalam proporsi isotonic sehingga menyebabkan hipervolemia tanpa disertai perubahan kadar elektrolit serum. Klien yang beresiko mengalami kelebihan volume cairan ini meliputi klien yang menderita gagal jantung kongestif, gagal ginjal dan sirosis (Weldy, 1992).

Penyebab beserta tanda dan gejala gangguan cairan ketidakseimbangan isotonic meliputi :

a. Kelebihan volume cairan
Tanda dan gejala pemeriksaan fisik : denyut nadi kuat, pernapasan cepat, hipertensi, distensi vena leher, peningkatan tekanan vena, suara krakles di paru-paru, peningkatan berat badan yang cepat.
Penyebab :
  • Gagal jantung kongestif
  • Gagal injal
  • Sirosis
  • Paningkatan kadar aldosteron dan steroid di dalam serum

Hasil pemeriksaan laboratorium  penurunan semua BUN <10mg/100ml.
Penyebab :
  • Asupan natrium berlebihan


2. Sindrom Ruang-Ketiga

Sidrom ruang-ketida terjadi jika cairan terperangkap di dalam suatu ruangan dan cairan di ruangan tersebut tidak mudah ditukar dengan cairan ekstrasel. Klien yang menderita sindrom ruang-ketiga akan mengalami efek kekurangan volume cairan ekstrasel.

Sindrom ini terjadi ketika cairan ekstrasel berpindah kedalam suatu ruangan tubuh sehingga cairan tersebut terperangkap di dalamnya. Akibat murni yang terjadi adalah kekurangan volume cairan di dalam ekstrasel. Obstruksi usus yang kecil atau luka bakar dapat menyebabkan perpindahan cairan sebanyak 5 sampai 10 liter keluar dari ruang ekstrasel.

Penyebab beserta tanda dan gejala sindrom ruang ketiga meliputi
 Tanda dan gejala pemeriksaan fisik : hipotensi, peningkatan lingkar perut (yang disertai obstruksi usus halus, asites).

Penyebab :
  • Hipertensi portal
  • Obstruksi usus halus
  • Peritonitis

  Hasil pemeriksaan laboratorium è natrium serum menurun <135mEq/L dan albumin menurun <3,5g/100ml (hilang dalam cairan yang terperangkap).

Penyebab :
  • Luka bakar


3. Ketidakseimbangan hiperosmolar :

Tanda dan gejala pemeriksaan fisik : penurunan berat badan, membrane mukosa menjadi kering dan lengket, rasa haus, suhu tubuh meningkat, iritabilitas, konvulsi tarikan atau ketegangan otot yang dapat menyebabkan kejang pada bagian tubuh), koma.

Penyebab :
  • Diabetes insipidus
  • Interupsi dorongan rasa haus yang dikontrol secara neurologis
  • Ketoasidosis diabetic
  • Pemberian cairan hipertonik
  • Diuresis hipertonik

Hasil pemeriksaan laboratorium è natrium serum meningkat >145 mEq/L dan osmolalitas serum meningkat >295mOsm/kg.
Penyebab :
  • Pemberian cairan hipertonik
  • Diuresis osmotic

4. Ketidakseimbangan hipoosmolar

Tanda dan gejala pemeriksaan fisik : tingkat kesadaran menurun, konvulsi, koma.
Penyebab : SIADH
Pemeriksaan laboratorium è kadar serum menurun <136mEq/L dan osmolalitas serum menurun <280 mOsm/kg
Penyebab : asupan air berlebihan


D. Gangguan tubuh karena kelebihan Elektrolit

Ketidakseimbangan elektrolit meliputi :

a.   Ketidakseimbangan Natrium
Nilai laboratorium normal untuk natrium serum adalah 135-145 mEq/L.

1. Hipernatremia
Hipernatremia adalah kondisi dimana nilai konsentrasi natrium lebih tinggi dari konsentrasi normal di dalam cairan ekstrasel, yang dapat disebabkan oleh kehilangan cairan yang ekstrim atau kelebihan natrium total. Apabila penyebab hipernatremia adalah peningkatan sekresi aldosteron , maka natrium dipertahankan dan kalium diekskresi. 
Ketika terjadi hipernatriema, tubuh berupaya mempertahankan air sebanyak mungkin melalui rebsorpsi air di ginjal. Tekanan osmotic interstisial meningkat dan cairan berpindah dari sel ke dalam cairan ekstrasel sehingga menyebabkan sel-sel menyusut dan menggangu sebagian besar proses fisiologis seluler.

Penyebab serta tanda dan gejala hipernatriema :
Penyebab è mengkonsumsi sejumlah besar larutan garam pekat, pamberian larutan salin hipertonik lewat IV secara iatrogenic, sekresi aldosteron yang berlebihan
Tanda dan gejala è Pemeriksaan fisik : demam tingkat rendah, lidah dan membrane mukosa kering, agitasi, konvulsi, gelisah, oliguria atau anuria, rasa haus, kulit kering dan kemerahan
Hasil pemeriksaan laboratorium : natrium serum >1,5 mEq/L, osmolalitas serum >295 mOsm/kg, dan berat jenis urine >1,030 (jika kehilangan air bukan disebabkan oleh disfungsi ginjal)
Penanganan hipernatremia adalah dengan pemberian cairan sampai defisit cairan tergantikan. Cairan yang diberikan adalah dextrose-5% atau NaCl-0,45%, tidak diberikan H2O karena dapat menyebabkan hemolisis.

b.   Ketidakseimbangan Kalium

Nilai laboratorium normal untuk kalium adalah 3,5-5,0 mEq/L.

1. Hiperkalemia
Hiperkalemia merupakan kondisi lebih besarnya jumlah kalium daripada nilai normal kalium di dalam darah. Penyebab utama hiperkalemia adalah gagal ginjal, adanya penurunan fungsi ginjal akan mengurangi jumlah ekskresi kalium oleh ginjal (Weldy, 1992).

Penyebab serta tanda dan gejala kiperkalemia :
Penyebab Gagal ginjal, dehidrasi hipertonik, kerusakan seluler yang parah seperti akibat luka bakar dan trauma, pemberian kalium melalui IV dalam jumlah besar secara latrogenik, insufisiensi adrenal, asidosis, infuse darah yang berlangsung cepat, penggunaan diuretic yang mempertahankan kalium
Tanda dan gejala è Pemeriksaan fisik : denyut nadi tidak teratir dan lambat, hipotensi, kesemasan/ansietas, iritabilitas, parestesia, kelemahan
Hasil pemeriksaan laboratorium : kalium serum >5,3 mEq/L.

Penanganan Hiperkalemi Terapy meliputi penyebab dan hemodialisis.Managemen hiperkalemia yang mengancam jiwa antara lain :
Ø      IV : dextrose 50 gr dengan 20 unit insulin
Ø      IV : kalsium klorida 10% 5-10 ml
Ø      IV : sodium bikarbonat 50-100 ml

c.   Ketidakseimbangan Kalsium
Nilai laboratorium normal untuk kalsium serum adalah 4-5 mEqlL.

1. Hiperkalsemia
Hiperkalsemia adalah peningkatan konsentrasi total kalsium dalam serum dan peningkatan kalsium yang terionisasi. Seringkali hiperkalsemia merupakan suatu gejala dari penyakit pokok yang menyebabkan resorpsi tulang berlebihan disertai pelepasan kalsium.

Penyebab serta tanda dan gejala hiperkalsemia :
Penyebab è Hiperparatiroidisme, metastase tumor tulang, penyakit Pagel, osteoporosis, imibilisasi yang lama Tanda dan gejala Hasil pemeriksaan fisik : penurunan tonus otot, anoreksia, mual dan muntah, kelemahan, latergi, nyeri pada punggung bagian bawah akibat batu ginjal, penurunan level kesadaran, henti jantung
Hasil pemeriksaan laboratorium : kalsium serum >5 mEq/L, sinar X menunjukkan adanya osteoporosis yang menyeluruh, kavitasi tulang yang menyebar, batu saluran kemih radioopak (terlihat warna putih pada rongen), peningkatan keratin >1.5 mg/100ml karena kekurangan cairan atau kerusakan renal akibat urolitiasis


d.   Ketidakseimbangan Magnesium
Nilai laboratorium normal untuk magnesium serum adalah 1,5-2,5 mEq/L.

1. Hipermagnesemia
Hipermagnesemia terjadi ketika konsentrasi magnesium serum meningkat sampai di atas 2,5 mEq/L. Hpermagnesemia dapat menurunkan eksitabilitas sel-sel otonom.

Penyebab serta tanda dan gejala hipermagnesiema :
Penyebab Gagal ginjal, pemberian magnesium parenteral yang berlebihan
Tanda dan gejala è Hasil pemeriksaan fisik : refleks tendon dalam hipoaktif, pernafasan dan frekuensi denyut jantung dangkal dan lambat, hipotensi, kemerahan
Pemeriksaan laboratorium : magnesium serum >2,5mEq/L

e.   Ketidakseimbangan Klorida
Nilai laboratorium normal untuk klorida serum adalah 100-106 mEq/L.

1.  Hiperkloremia
Hiperkloremia terjadi jika kadar klorida serum meningkat sampai di atas 106 mEq/L, menyebabkan penurunan nilai bikarbonat serum. Hipokloremia dan hiperkloremia jarang terjadi sebagai akibat dari proses penyakit yang tunggal, tetapi umumnya berhubungan dengan ketidakseimbangan asam-basa. Tidak ada satu rangkaian gejala yang berhubungan dengan  perubahan ini.

Kesimpulan
  • Cairan tubuh adalah cairan yang terdiri dari air dan zat terlarut.
  • Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-pertikel yang bermuatan listrik yang disebut dengan ion jika berada dalam larutan.
  • Komponen cairan tubuh terdiri dari air dan zat terlarut.
  • Kompartemen cairan tubuh terdiri dari cairan intra seluler (CIS) dan cairan ekstraseluler (CES).
  • Gangguan keseimbangan cairan yaitu ketidak seimbangan isotonik, sindrom ruang ketiga, ketidakseimbangan osmolar.
  • Gangguan elektrolit yaitu ketidakseimbangan natrium, kalium, kalsium, magnesium, dan klorida.

Saran
Pasien yang mengalami gangguan cairan dan elektrolit sebaiknya segera ditangani karena sebagian besar dalam tubuh manusia terdiri dari cairan dan elektrolit dan apabila tidak segera ditangani akan menyebabkan kematian

DAFTAR PUSTAKA
http://aceh.tribunnews.com/2015/03/11/yang-terjadi-pada-tubuh-saat-kekurangan-dan-kelebihan-cairan
http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/15/05/06/nnwjz4-kenali-gejala-overhidrasi-sejak-dini
http://lifestyle.sindonews.com/read/998618/155/wanita-lebih-rentan-terkena-overhidrasi-1431000374


Share:

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Pages

Blog Archive

Translate

Text Widget

Copyright © ILMU KESEHATAN | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com