Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Agustus 2016

Mengatasi Masalah Kesehatan Pada Ibu Hamil

CARA MENGATASI MASALAH KESEHATAN IBU

KETIKA IBU HAMIL MENGALAMI TANDA BAHAYA KEHAMILAN
  1. Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan atau petugas kesehatan terdekat.
  2. Di fasilitas kesehatan atau petugas kesehatan terdekat, ibu akan memperolah pelayanan kesehatan untuk menyelamatkan kehamilan ibu dan cara-cara menjaga kehamilan sehingga ibu selamat dan bayi lahir sehat.

KETIKA KELUARGA MERASA KEHAMILAN ITU PROSES ALAMIAH
  1. Kehamilan itu memang proses alamiah, tetapi perlu dijaga supaya ibu selamat ketika melahirkan dan bayi lahir sehat.
  2. Kehamilan adalah anugerah Tuhan yang harus dijaga, tidak boleh diabaikan.
  3. Ibu agar memeriksakan kehamilannya minimal empat kali ke petugas kesehatan selama hamil untuk mengetahui kondisi kesehatan ibu dan bayi.

KETIKA KELUARGA MERASA LEBIH NYAMAN BERSALIN DENGAN DUKUN
  1. Dukun memiliki ketrampilan berdasarkan pengalaman secara turun menurun, sedangkan petugas kesehatan meiliki keahlian setelah memperoleh pendidikan formal.
  2. Bila ada kelainan kehamilan, petugas kesehatan dapat segera mengetahui apakah membahayakan jiwa ibu dan bayi. Petugas dapat segera merujuk ke rumah sakit terdekat. Peran dukun membantu untuk memandikan bayi, mengurut/ memijat ibu, dan sebagainya.

KETIKA KELUARGA MERASA LEBIH MAHAL BERSALIN DENGAN BIDAN
  1. Memeriksakan kehamilan ke Bidan tidaklah mahal. Jika dinilai dengan risiko ibu dan bayi yang mungkin meninggal akibat ditolong bukan oleh tenaga kesehatan.
  2. Ibu hamil lebih aman melahirkan di fasilitas kesehatan karena bila ada kelainan kehamilan segera diketahui dan dapat ditangani lebih awal sebagai pencegahan supaya ibu selamat dan bayi lahir sehat.
  3. Mulai tahun 2011 ada program Jaminan Persalinan yang dikhususkan bagi ibu hamil yang belum memiliki jaminan persalinan.

KETIKA ASI TIDAK KELUAR
  1. Kondisi kejiwaan ibu sangat mempengaruhi keluarnya ASI.
  2. Ibu harus bersuka cita karena memiliki anak.
  3. Ibu dapat mendatangi fasilitas kesehatan atau petugas kesehatan untuk memperoleh informasi dan cara melakukan pemijatan agar produksi ASI cukup.
  4. Ibu perlu makan dalam jumlah dua kali lipat daripada saat sebelum hamil karena selain kebutuhan juga untuk menghasilkan ASI.
  5. Makan sayuran hijau tua dan kacang-kacangan akan memperbanyak produksi ASI.

KETIKA IBU MENGALAMI PEMBENGKAKAN PAYUDARA
  1. Payudara yang membengkak pada saat menyusui adalah hal yang yang alamiah karena mengandung ASI.
  2. Ibu dapat mendatangi fasilitas kesehatan untuk memperoleh informasi dan cara mencegah pembengkakan payudara.

KALAU IBU TIDAK MAU IKUT KELUARGA BERENCANA (KB)
  1. Ibu perlu ber-KB minimal 2 tahun.
  2. Dengan ikut KB, ibu menunda kehamilan, sehingga ibu punya banyak waktu merawat kesehatan diri sendiri, anak dan keluarga. Bila ibu dinyatakan hamil berarti dalam tubuh ibu sudah ada janin yang perlu diperhatikan asupan makanannya sehingga pemberian ASI kepaqda anak yang masih balita perlu dihentikan.

KETIKA IBU TIDAK MENDAPAT DUKUNGAN KELUARGA (SUAMI/MERTUA)
  1. Memilih penolong saat kehamilan adalah hak ibu. Oleh karena menyangkut nyawa ibu dan bayi, ibu bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan bayinya.
  2. Bila suami dan keluarga tidak mendukung untuk memeriksakan kehamilan ke petugas kesehatan, ibu dapat berkonsultasi dengan kader Posyandu atau petugas kesehatan untuk memberikan cara penyelesaian masalah yang terbaik.
  3. Minta bantuan kader Posyandu atau petugas kesehatan untuk memberikan informasi kepada suami dan keluarga tentang manfaat pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan ke petugas kesehatan.
  4. Dukungan suami dan keluarga sangat penting agar bayi dan ibu sehat dan selamat.
  5. Keluarga harus diberi pengertian bahwa kehamilan adalah anugerah Tuhan. Ibu hamil perlu dijaga dan memperolah pelayanan kesehatan yang memadai.



Share:

Senin, 08 Agustus 2016

Fisiologi Sistem Panca Indra


FISIOLOGI PANCAINDRA

Organum Olfactorium

  • Tractus olfactorius
  • Bulbus olfactorius
  • Sel olfactorius terletak pada atap cavum nasalis: berupa lamina kribiformis os frontalis
  • Ada 107 sel indera primer penciuman → terletak pada neuroepitelium regio olfactorius (epitelium olfaktori)
  • Reseptor penciuman (kemoreseptor olfaktori) bersifat bipolar, ujung dendritnya membawa 5-20 silia yg ditutupi oleh mukus, akson menuju ke otak
  • Epitelium olfactori mengandung sel penunjang, sel basal dan sel olfaktori
  • Sel olfactory merupakan neuron bipolar, ujungnya berambut yang menonjol pada mukus
  • Kemoreseptor olfactorius terletak didalam bagian khusus mucosa hidung yakni membrana mucosa olfactorius.
  • Kemoreseptor olfactorius hanya berespon terhadap senyawa yang berkontak dengan epitel olfactorius dan dilarutkan dalam lapisan tipis mukus yang menutupinya.

Syarat zat yang dapat di-bau :

  • Harus mudah menguap → dapat masuk hidung
  • Sedikit larut dalam air sehingga dapat melalui mukus untuk mencapai sel olfactorius
  • Harus dapat larut dalam lipid karena diduga rambut olfactorius dan ujung luar sel olfactorius terutama terdiri dari zat lipid
Jaras Saraf Olfactorius

  • Silia olfactoria → sel olfactoria (reseptor) →akson olfactoria → glomeruli olfactorius → sel mitral → tractus olfactorius →striae olfactoriae medialis et lateralis →cortex olfactorium

Peranan Penciuman

  • Menimbulkan sekresi saliva dan getah lambung → respon bau menyenangkan, bau busuk
  • Memantau kebersihan → keringat, kotoran
  • Membentuk info sosial → penciuman “keluarga” dan “orang luar’
  • Mempengaruhi tingkah laku seksual
  • Mempengaruhi emosi → gembira, lesu
Kelainan Penciuman

  • Anosmia: tak ada indera penciuman
  • Hiposmia: sensitifitas penciuman yang berkurang
  • Disosmia: indera penciuman yang berubah
Organum Gustatorium

  • Papilla lingualis
  • Papilla fungiformis
  • Papilla filiformis
  • Papilla sircumvalata
  • Tonsila lingualis
  • Reseptor gustatorius terdapat dalam papila lingualis


  • Sel reseptor gustatorius (tunas pengecapan) terletak di lidah, merupakan kemoreseptor yang berespon terhadap senyawa yang dilarutkan dalam cairan mulut
  • Pada manusia terletak pada : Lidah, Palatum, Epiglotis, Nasofaring
Macam sensasi pengecapan dan letaknya di lidah :

  • Pahit: dorsum posterior linguae
  • Manis: ujung lidah
  • Asin: dorsum anterior linguae
  • Asam: sepanjang tepi (lateral) lidah

Jaras Saraf Gustatorius

  • Saraf sensorik 2/3 anterior lidah → chorda tympani dari n facialis ( VII )
  • 1/3 posterior lidah → n glosofaringius (IX)
  • Faring melalui n vagus ( X )
  • Ketiganya masuk ke nukleus tractus solitarius di batang otak → kemudian diteruskan oleh lemnicus medialis bersama rasa raba, nyeri dan suhu → menuju area proyeksi pengecapan ( cortex cerebri )

Peranan Indera Pengecap

  • Menjaga makanan yg rusak (citarasa yang buruk: reflek muntah; citarasa pahit: biasanya beracun)
  • Menimbulkan sekresi saliva dan getah lambung

Kelainan Pengecapan

  • Ageusia → tak ada indera pengecapan
  • Hipogeusia → sensitivitas pengecapan yang berkurang
  • Disgeusia → indera pengecapan yang terganggu
Indera Pendengaran

  • Telinga luar terdiri : aurikula (pinna) , meatus akustikus eksternus
  • Telinga tengah terdiri : membrana timpani, ossicles (malleus, incus, stapes) , meatus akustikus internus , tuba faringotimpani (tuba Eustachius).
  • Telinga dalam terdiri: terdiri dua buah organ , organ pendengaran (cochlea) dan organ keseimbangan (aparatus vestibularis).

Proses Mendengar

  • Pendengaran → indera mekanoreseptor → memberikan respon terhadap getaran mekanik gelombang suara yang terdapat diudara.
  • Getaran suara diterima membrana timpani → maleus → inkus → stapes → labirin membranosa pada lubang foramen ovale → gelombang suara dihantarkan ke telinga dalam (koklea)

  • Koklea (tabung bergelung) → terbagi menjadi tiga ruangan (scalae) → skala vestibuli, skala timpani dan skala media.
  • Skala vestibuli, skala timpani berisi perilimfe, skala media berisi endolimfe


  • Skala vestibuli, skala timpani saling berhubungan melalui lubang kecil di apek koklea yang disebut helicotrema
  • Skala vestibuli dan skala media dipisahkan oleh membrana vestibularis (membran Reissner)


  • Antara skala media dan skala timpani dipisahkan oleh membrana basilaris
  • Skala media berisi organ korti yang terletak di membrana basilaris → reseptor getaran suara.


  • Getaran suara masuk skala vestibuli dari permukaan lebar stapes pada foramen ovale, perlekatan ini dihubungkan oleh ligamen anulare yang relatif longgar sehingga dapat bergerak keluar dan kedalam → gerakan kedalam menyebabkan cairan bergerak kedalam skala vestibuli, skala media dan skala timpani dan menyebabkan foramen rontundum menonjol keluar dan menimbulkan getaran sesuai dengan frekuensinya.

Jaras Saraf

  • Organ corti (reseptor) → n. koklearis → nukleus koklearis (medulla oblongata) → nukleus olivaris superior → kolikulus inferior (pusat refleks pendengaran) → nukleus genikulatum mediale (didalam thalamus) → cortex cerebri (radiatio auditoria) yang terletak di girus superior lobus temporalis.

Ketulian

  • Tuli hantar : tuli akibat gangguan hantaran bunyi dari telinga luar atau tengah, akibat :
  • Sumbatan mae oleh serumen atau benda asing
  • Kerusakan ossicula auditus
  • Penebalan membrana timpani setelah infeksi telinga tengah ( otitis media )
  • Kekakuan perlekatan antara stapes dan foramen ovale
  • Tuli saraf : tuli akibat kerusakan sel rambut atau jaras saraf, yang diakibatkan :
  • Degenerasi toksin sel rambut akibat streptomisin dan gentamisin
  • Kerusakan sel rambut luar akibat oleh antibiotika
  • Tumor pada n vestibularis dan hantaran diatasnya
  • Audiometer : alat untuk mengukur ketajaman pendengaran.
  • Frekuensi yang dapat didengar antara : 20 – 20.000 Hz ( siklus / detik )

Aparatus Vestibularis

  • Aparatus vestibularis adalah organ sensoris keseimbangan
  • Terdiri: utrikulus, sakulus dan duktus semisirkularis (bagian labyrin membranaseus)


  • Kanalis semisirkularis (ampula) → berkenaan dengan rotasi → terdiri: ductus semisircularis superior, lateralis, posterior → dalam ampula terdapat krista → didalam krista terdapat kupula
  • Vestibularis → berisi: Utriculus dan Sacculus → didalamnya terdapat makula → berkenaan dengan keseimbangan statis (posisi dan gerakan garis lurus)
  • Tiap makula dilapisi oleh gelatinosa tempat tertanam banyak kristal kecil kalsium karbonat yang disebut otokonia dan sel rambut dimana dasar sel rambut tersebut berhubungan dengan akson sensoris dari n.vestibularis
  • Makula terdiri: sel penunjang dan reseptor yang disebut sel rambut
  • Tiap makula dilapisi oleh gelatinosa dan mengandung banyak kristal kecil dari kalsium karbonat yang disebut otokonia /statokonia dan sel rambut dimana dasar sel rambut tersebut berhubungan dengan akson sensoris dari n.vestibularis (n.VIII)
  • Dalam ampula kanalis sirkularis, ada krista kecil yang disebut krista ampularis
  • Diatas krista terdapat massa gelatinosa yang disebut kupula yang didalamnya ada sel rambut (silia)
  • Sel rambut berhubungan dengan serabut sensoris n vestibularis → diteruskan ke nukleus vestibularis (terletak pada pertemuan medulla oblongata dan pons) →cerebelum (otak kecil)

Keseimbangan Statis

  • atis adalah kesadaran akan posisi kepala terhadap gaya gravitasi jika tubuh tidak bergerak
  • Termasuk kesadaran untuk merespon perubahan dalam percepatan linear: yaitu kecepatan dan arah pergerakan kepala dan tubuh dalam suatu garis lurus
  • Reseptor keseimbangan statis adalah: makula yang terdapat dalam utrikulus dan sakulus

Keseimbangan Dinamis

  • Keseimbangan dinamis adalah kesadaran akan posisi kepala saat merespon gerakan anguler atau rotasi
  • Reseptor keseimbangan dinamis adalah: ampula, didalam ampula terdapat krista
  • Krista terdiri sel penunjang dan sel rambut yang menonjol membentuk lapisan gelatin yang disebut kupula
  • Gerakan kepala menyebabkan endolimfe dalam saluran semisirkularis menggerakan kupula

Kelainan Vestibularis

  • Vertigo : kelainan atau penyakit pada organ keseimbangan
  • Mabuk kendaraan : adalah akibat gangguan pada labirin oleh gerakan yang berulang ulang dari endolymphe

Tugas Individu

  1. Apa yang menyebabkan nafsu makan menurun pada orang yang menderita batuk pilek?
  2. Bagaimana cara membedakan penderita tuli akibat tuli hantar dan tuli saraf?

Share:

Fisiologi Metabolisme Dan Pengaturan Suhu Tubuh



FISIOLOGI METABOLISME

Apa Itu Metabolisme.?

  • Metabolisme adalah suatu proses komplek perubahan makanan menjadi energi dan panas melalui proses fisika dan kimia, berupa proses pembentukan dan penguraian zat didalam tubuh organisme untuk kelangsungan hidupnya.


  • Macam Metabolisme

Metabolisme dibedakan 2 macam :

  1. Katabolisme : proses penguraian makanan menjadi energi, yang terjadi pada proses respirasi sel.
  2. Anabolisme : proses pembentukan (sintesa) zat organik komplek yang berasal dari zat yang lebih sederhana


  • Contoh Metabolisme

Contoh Katabolisme :

  1. Glikogenolisis : proses pemecahan glikogen menjadi glukose
  2. Glikolisis : proses pemecahan glukose menjadi asam piruvat

Contoh Anabolisme :

  1. Glikogenesis : proses pembentukan glikogen dari glukose
  2. Glikoneogenesis : proses pembentukan glukose dari prtein atau lemak

Alur Metabolisme



  • Hasil Metabolisme


  1. Hasil metabolisme berupa energi dan panas → energi tersebut belum dapat digunakan langsung oleh sel → berikatan adenin, fosfat dan ribose → ATP (Adenosin Tri Fosfat).
  2. ATP tersebut merupakan simpanan energi → siap digunakan oleh sel untuk : transport membran, sintesis senyawa kimia, kerja mekanik.
  3. Jika sel memerlukan energi, maka energi diambil dari ATP dengan cara melepas satu gugus fosfat menjadi ADP (Adenosin Di Phosfat) dengan melepas 8.000 kalori.


  • Penggunaan ATP


  1. ATP → ADP + PO4 + 8.000 kalori
  2. ADP → AMP + PO4 + 8.000 kalori
  3. AMP sudah tidak dapat mengeluarkan energi lagi → harus diisi lagi dengan energi baru yang berasal dari metabolisme makanan → menjadi ATP.
  4. Metabolisme → proses merubah makanan → ATP

  1. Kreatin + ATP → Fosforil kreatin + ADP
  2. Kreatin di otot dalam keadaan istirahat mampu mengikat ATP menjadi Fosforil kreatin (simpanan energi)
  3. Jika otot perlu energi untuk gerak maka fosforil kreatin dipecah →Kreatin + ATP.
  4. ATP inilah yang digunakan untuk gerak


  • Fase Metabolisme Karbohidrat


  1. Glikolisis → proses merubah glukose → asetil Co-A
  2. Siklus Kreb → proses merubah asetil Co-A → H
  3. Fosforilasi Oksidatif → proses mereaksikan H + O → H2O + ATP


  • Glikolisis


  1. Glikolisis: glukose → asam piruvat/ asetil co-A
  2. R/ Glukose + 2 ADP + 2 PO4 → 2 Asam Piruvat + 2 ATP + 4 H


  • Hasil akhir glikolisis:


  1. Asam piruvat / Acetil co-A
  2. 2 ATP


  • Siklus Asam Sitrat


  1. Siklus Kreb: asetil co-A → H
  2. R/ 2 Asetil Ko-A + 6 H2O + 2 ADP → 4 CO2 + 16 H + 2 Ko-A + 2 ATP
  3. Hasil utama: H (hidrogen) dan 2ATP


  • Fosforilasi Oksidatif


  1. Rantai Respirasi → transfer H dari satu karier ke karier lainya dengan enzim dehidrogenase
  2. H + O2 → H2O + ATP
  3. R/ 2 H + ½ O2 + 2e + ADP → H2O + ATP
  4. ATP hasil fosforilasi oksidatif = 34 ATP


  • Metabolisme Lemak

Ada 3 fase:

  1. β oksidasi → proses merubah asam lemak → asetil Co-A
  2. Siklus Kreb → proses merubah asetil Co-A →H
  3. Fosforilasi Oksidatif → proses mereaksikan H + O → H2O + ATP


  • Metabolisme Protein

Ada 3 tahap

  1. Deaminasi → proses merubah asam amino → asetil Co-A
  2. Siklus Kreb → proses merubah asetil Co-A → H
  3. Fosforilasi Oksidatif →proses mereaksikan H + O → H2O + ATP


  • Keseimbangan Energi
  • Energi didalam tubuh kita dikatakan seimbang, jika jumlah energi yang masuk melalui makanan sama besar dengan jumlah energi yang dikeluarkan untuk kelangsungan hidup
  • Basal Metabolisme Rate (BMR)


  1. Basal Metabolisme Rate ( BMR ) : adalah keadaan metabolisme tubuh dalam keadaan istirahat fisik maupun mental
  2. Jadi dalam keadaan BMR, diperlukan jumlah tenaga minimal untuk kelangsungan hidup yang terpenting : gerak nafas, suhu tubuh, sirkulasi darah.
  3. BMR rata rata: 2.000 kalori / hari,
  4. Kebutuhan energi manusia > 2.000 kalori / hari yang dipergunakan untuk: BMR, kegiatan fisik dan SDA
  5. SDA( Specifik Dinamic Action ) yaitu energi yang dibutuhkan untuk metabolisme makanan
  6. Laju metabolik → jumlah tenaga yang dibebaskan per satuan waktu

Cara Pengukuran BMR

  1. Tidak makan minimal 12 jam
  2. Tidur nyenyak semalam
  3. Tanpa gerak badan setelah tidur
  4. Menghilangkan faktor psikis dan fisik yang merangsang metabolisme
  5. Suhu harus nyaman ( 25 – 300 C )

Faktor BMR

  1. Gerak badan
  2. Makan / minum
  3. Suhu lingkungan
  4. Tinggi badan, Berat badan
  5. Jenis kelamin
  6. Suhu tubuh
  7. Kehamilan, menstruasi
  8. Hormon tiroid
  9. Hormon epineprin dan nonepineprin

Cara Menghitung Kebutuhan Energi

  • Untuk menghitung kebutuhan energi seseorang, maka harus diketahui BMR nya dan kegiatan fisiknya, dan untuk memperkirakan jumlah energi yang diperlukan dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut

Rumus BMR


Energi Aktivitas Fisik



Suhu Tubuh

  • Suhu tubuh normal rata rata per oral = 37oC (36,40C - 37,2OC).

Kehilangan panas tubuh melalui cara:

  1. Radiasi : 60 %
  2. Konduksi ke tempat lain : 3 %
  3. Konveksi ke udara: 15 %
  4. Evaporasi: 22 %

Perpindahan Panas

  1. Konduksi → perpindahan kalor melalui suatu medium, tanpa disertai perpindahan partikel medium tersebut
  2. Misal: perpindahan panas tubuh ke kursi
  3. Konveksi: perpindahan kalor melalui suatu medium, yang disertai perpindahan partikel medium tersebut
  4. Misal: perpindahan panas tubuh ke udara
  5. Radiasi → perpindahan panas tanpa melalui medium, dalam bentuk gelombang elektromagnetik
  6. Misal: sinar, sinar gama, sinar X, sinar infra merah
  7. Evaporasi → perpindahan panas melalui penguapan
  8. Misal: penguapan keringat memerlukan kalori

Keseimbangan Panas

  1. Panas secara terus menerus dihasilkan oleh tubuh sebagai hasil sampingan metabolisme, dan panas juga dibuang ke lingkungan sekitar.
  2. Bila kecepatan pembentukan panas tepat sama dengan kehilangan panas maka tubuh dalam keadaan keseimbangan panas.
  3. Tetapi bila keduanya diluar keseimbangan, maka suhu tubuh akan meningkat atau menurun.
  4. Jika suhu tubuh > suhu lingkungan → panas akan hilang dengan cara radiasi dan konduksi
  5. Jika suhu tubuh < suhu lingkungan → tubuh dapat panas dari radiasi dan konduksi lingkungan → membuang panas dengan Evaporasi.

Pengaturan Suhu Tubuh

  1. Pusat pengatur suhu tubuh →Termostat Hipotalamus
  2. Reseptor suhu tubuh :
  3. Neuron di area Preoptika Hipotalamus
  4. Reseptor suhu kulit
  5. Reseptor suhu didalam Medulla spinalis, Abdomen.

Mekanisme Pembuangan Panas

  1. Perangsangan kelenjar keringat → pembuangan panas secara penguapan.
  2. Menghambat pusat simpatis di Hipotalamus posterior, sehingga menghilangkan tonus vasokonstriksi normal pada pembuluh kulit →terjadi vasodilatasi dan kehilangan banyak panas dari tubuh

Mekanisme Pembentukan Panas

  1. Vasokonstriksi pada kulit → mencegah konduksi panas dari dalam tubuh ke kulit.
  2. Piloereksi “rambut berdiri“ → membentuk isolator pada kulit, efek ini tidak begitu penting pada manusia.
  3. Peniadaan keringat → penguapan terhenti.

Peningkatan pembentukan panas :

  1. Menggigil (Pusat motorik efek menggigil terletak pada bagian Dorsomedial Hipotalamus Posterior)
  2. Peningkatan rangsangan simpatis pembentukan panas → Hormon epinefrin dan norepinefrin meningkatkan metabolisme.
  3. Peningkatan pengeluaran Hormon Tiroksin → meningkatkan metabolisme.

Fisiologi Demam

  1. Demam → adalah suhu tubuh diatas batas normal biasa, yang disebabkan oleh zat toksik (Pirogen), penyakit bakteri, tumor otak, atau dehidrasi yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu (termostat hipotalamus).
  2. Pirogen tsb merangsang termostat hipotalamus, untuk di set pada suhu yang lebih tinggi

  3. Karena suhu tubuh lebih rendah dari pada setelan ( set ) termostat hipotalamus → maka terjadi peningkatan suhu tubuh dan terjadilah demam (diatas normal) sampai mencapai suhu kritis (38,6OC)
  4. Pada suhu kritis tsb (38,6OC) → maka tubuh berusaha men-set termostat hipotalamus pada suhu normal (37OC) → maka terjadi vasodilatasi, dan berkeringat.
  5. Perubahan peristiwa yang mendadak pada demam dari suhu kritis menuju normal disebut Kritis atau FLUSH

  6. Bila suhu tubuh meningkat sampai melebihi 40,5OC → terjadi sengatan panas (HEAD STROKE) dengan gejala : dizziness, distress abdomen, delirium, kehilangan kesadaran.
  7. Obat anti Piretik (Aspirin) → mempunyai kasiat menurunkan panas, dengan jalan menurunkan penyetelan termostat hipotalamus (kebalikan efek Pirogen).

Share:

Jumat, 05 Agustus 2016

Ukuran - Ukuran Dalam Epidemiologi


UKURAN-UKURAN DALAM EPIDEMIOLOGI

Proporsi:

  1. Proporsi adalah perbandingan yang pembilangnya merupakan bagian dari penyebut
  2. Proporsi digunakan untuk melihat komposisi suatu variabel dalam populasi

Rumus:

Proporsi : x / (x+y) x k

Contoh: 

  • Proporsi Mhs wanita =

Jumlah Mahasiswa wanita
------------------------------------------ k
Jumlah Mahasiswa wanita + pria

  • Proporsi Mahasiswa berprestasi
  • Proporsi Mahasiswa hafal Al Qur’an

Ratio:

  • Ratio adalah perbandingan dua bilangan yang tidak saling tergantung
  • Ratio digunakan untuk menyatakan besarnya kejadian

Rumus:

Ratio: (x/y) k

Ratio dapat juga dinyatakan sebagai perbandingan
Ratio x : y = 1 : 2

Contoh:

  • Sex ratio =

jumlah pria
---------------------- k
jumlah wanita

Pria : Wanita = x : y

  • Dependency ratio =

Juml usia (0 - <14th) + (>65 th)
------------------------------------------- k
Jumlah usia (15 – 64 th)

Contoh: Jumlah Mahasiswa Stikes = 100, ratio pria : wanita = 2 : 3. Berapa jumlah masing2 mahasiswa?

Rate

  • Rate adalah perbandingan suatu kejadian dengan jumlah penduduk yang mempunyai risiko kejadian tersebut
  • Rate digunakan untuk menyatakan dinamika dan kecepatan kejadian tertentu dalam masyarakat

Rumus:

Rate: (x/y) k

  • X: angka kejadian
  • Y: populasi berisiko
  • K: konstanta (angka kelipatan dari 10)

Contoh:

  • Campak → berisiko pada balita
  • Diare → berisiko pada semua penduduk
  • Ca servik → berisiko pada wanita

Contoh Soal:

Jumlah pasien di RS A = 150, dengan rincian pria = 90 dan wanita = 60

  1. Berapa proporsi pasien wanita?
  2. Berapa sex ratio pasien di RS A?

PENGUKURAN ANGKA KESAKITAN/ MORBIDITAS

INCIDENCE RATE

  • Incidence rate adalah frekuensi penyakit baru yang berjangkit dalam masyarakat di suatu tempat / wilayah / negara pada waktu tertentu

Incidence Rate (IR):

Jumlah penyakit baru
--------------------------------- k
Jumlah populasi berisiko

PREVALENCE RATE

  • Prevalence rate adalah frekuensi penyakit lama dan baru yang berjangkit dalam masyarakat di suatu tempat/ wilayah/ negara pada waktu tertentu
  • PR yang ditentukan pada waktu tertentu (misal pada Juli 2000) disebut Point Prevalence Rate
  • PR yang ditentukan pada periode tertentu (misal 1 Januari 2000 s/d 31 Desember 2000) disebut Periode Prevalence Rate

Prevalence Rate (PR):

Jumlah penyakit lama + baru
--------------------------------------- k
Jumlah populasi berisiko

ATTACK RATE

Attack Rate adalah jumlah kasus baru penyakit dalam waktu wabah yang berjangkit dalam masyarakat di suatu tempat/ wilayah/ negara pada waktu tertentu

Attack Rate (AR):

Jumlah penyakit baru
--------------------------------- k
Jumlah populasi berisiko

(dalam waktu wabah berlangsung)

Contoh Soal:

Data desa Jombang pada tahun 2007 adalah sbb:
Jumlah penduduk = 2.000.000
Ratio pria : wanita = 2 : 3
Ratio balita : bukan balita = 2 : 8
Kasus lama/baru campak: Feb=2/10, Mar=5/20, Jun=4/15
Kasus lama/baru diare: Ags= 2/15, Sep=3/25, Okt=5/10
Kasus lama/baru ca servik: Apr=3/5, Jul=8/5

Hitunglah:

  1. Incidence Rate Campak tahun 2007
  2. Point Prevalence Rate Campak pada bulan Feb, Maret dan Juni?
  3. Periode Prevalence Rate Campak pada tahun 2007?
  4. Attack Rate Campak?

Hitunglah:

  1. Incidence Rate Diare tahun 2007
  2. Point Prevalence Rate Diare pada bulan Ags, Sep dan Okt?
  3. Periode Prevalence Rate Diare pada tahun 2007?
  4. Attack Rate Diare?

Hitunglah:

  1. Incidence Rate Ca Servik tahun 2007
  2. Point Prevalence Rate Ca servik pada bulan Apr dan Jul?
  3. Periode Prevalence Rate Ca Servik pada tahun 2007?


PENGUKURAN MORTALITY RATE

CRUDE DEATH RATE

  • CDR adalah angka kematian kasar atau jumlah seluruh kematian selama satu tahun dibagi jumlah penduduk pada pertengahan tahun

Rumus: CDR (Crude Death Rate)

Jumlah semua kematian
--------------------------------- k
Jumlah semua penduduk

SPECIFIC DEATH RATE

  • SDR adalah jumlah seluruh kematian akibat penyakit tertentu selama satu tahun dibagi jumlah penduduk pada pertengahan tahun

Rumus: SDR (Specific Death Rate

Jumlah kematian penyakit x
----------------------------------- k
Jumlah semua penduduk

CASE FATALITY RATE

  • CFR adalah persentase angka kematian oleh sebab penyakit tertentu, untuk menentukan kegawatan/ keganasan penyakit tersebut.

CFR (Case Fatality Rate):

Jumlah kematian penyakit x
------------------------------------ x 100%
Jumlah kasus penyakit x

MATERNAL MORTALITY RATE

  • MMR = AKI = Angka kematian Ibu adalah jumlah kematian ibu oleh sebab kehamilan/ melahirkan/ nifas (sampai 42 hari post partum) per 100.000 kelahiran hidup

MMR (Maternal Mortality Rate):

Jumlah kematian Ibu
------------------------------ x 100.000
Jumlah kelahiran hidup

INFANT MORTALITY RATE

  • IMR = AKB = angka kematian bayi adalah jumlah kematian bayi (umur <1tahun) per 1000 kelahiran hidup

IMR (Infant Mortality Rate):

Juml kematian bayi
----------------------------- x 1000
Juml kelahiran hidup

NEONATAL MORTALITY RATE

  • NMR = AKN = Angka Kematian Neonatal adalah jumlah kematian bayi sampai umur < 4 minggu atau 28 hari per 1000 kelahiran hidup

NMR (Neonatal Mortality Rate):

Jumlah kematian neonatus
------------------------------------ x 1000
Jumlah kelahiran hidup

PERINATAL MORTALITY RATE

  • PMR = AKP = angka Kematian Perinatal adalah jumlah kematian janin umur 28 minggu s/d 7 hari seudah lahir per 1000 kelahiran hidup

PMR (Perinatal Mortality Rate):

Jumlah kematian perinatal
---------------------------------- -x 1000
Jumlah kelahiran hidup

Contoh Soal:

  1. Penduduk Indonesia pada pertengahan tahun 1990 = 178.440.000 orang dengan jumlah kematian selama tahun 1990 = 17.308.680 orang. Berapa CDR tahun 1990?
  2. Bila jumlah kematian karena tetanus pada tahun 1990 = 180.000 orang. Berapa SDR tetanus per 1000 penduduk?
  3. Jumlah kematian ibu oleh sebab kehamilan di Singapura hanya 1 orang pada tahun 1990, dengan jumlah seluruh kelahiran hidup sebanyak 49.864 orang. Berapa MMR pada tahun 1990?
  4. Hasil sensus penduduk Jepang tahu 1990, dilaporkan jumlah kematian bayi <1 tahun sebanyak 5.616 orang, jumlah kematian bayi umur 4 minggu sebanyak 3.179 orang, jumlah kematian janin umur 28 minggu s/d 7 hari post partum sebanyak 7.001 orang.
  5. Jika jumlah kelahiran hidup 1.227.900 orang.
  6. Berapa IMR tahun 1990?
  7. Berapa PMR tahun 1990?
  8. Berapa NMR tahun 1990?

Referensi


  1. Noor, 1997, Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular, Jakarta, PT. Rineka Cipta
  2. Bustan, 2000, Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Jakarta, PT. Rineka Cipta
  3. Bustan, 2002, Pengantar Epidemiologi, Jakarta, PT. Rineka Cipta
  4. Notoatmojo, 2003, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prinsip Prinsip Dasar, Jakarta, PT. Rineka Cipta
  5. Entjang, 2000, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti
  6. Vaughan, Morrow, 1993, Panduan Epidemiologi Bagi Pengelolaan Kesehatan Kabupaten, Bandung, ITB

Share:

Pengukuran Epidemiologi


Pengukuran Epidemiologi

Didalam uraian ini akan diuraikan berbagai ukuran kesakitan dan kematian yang lazim dipakai dalam servey atau penyelidikan-penyelidikan epidemiologi. Ukuran dasar yang akan dibicarakan disini adalah rate.

Dalam hubungan dengan kesakitan akan dibicarakn insidence rate,prevalence (point period prevalence rate), attack rate dan dalam hubungan dengan kematian akan dibicarakan crude death rate, disease specific fatality rate dan adjusted death rate. Sebalum membicarakan masing-masing rate tersebut perlu dikemukakan hal hal sebagai berikut :

1.      Untuk menyusun rate dibutuhkan 3 elemen

a.     Jumlah orang yang terserang penyakit atau yang meninggal
b.     Jumlah penduduk dari mana penderita berasal (reverence population)
c.     Waktu atau periode dimana orang-orang terserang penyakit

2.     Apabila pembilang terbatas umur,sex atau golongan tertentu maka penyebut juga harus terbatas           pada umur, sex atau golongan yang sama.

3.    Bila penyebut terbatas pada mereka yang dapat terserang atau terjangkit penyakit, makan                    penyebut tersebut dinamakn populasi yang mempunyai resiko (population at risk).

a.     Incidence Rate

Incidence rate dari suatu penyakit tertentu adalah kasus baru yang terjadi dikalangan penduduk selama periode waktu tertentu.

Jumlah kasus baru suatu penyakit selama periode   tertentu
Incidence rate = ------------------------------------------------------- x 1000
                                 Populasi yang mempunyai resiko 

b.     Attack Rate

Jumlah kasus selama epidemi
Attack rate   =    -------------------------------------------------- x 1000
Populasi yang mempunyai risiko-risiko

c.      Prevalence Rate

Prevalence rate mengukur jumlah orang di kalangan penduduk yang menderita suatu penyakit satu titik waktu tertentu.
Jumlah kasus-kasus penyakit yang ada pada suatu titik waktu
Prevalence rate = --------------------------------------------------------------- x 1000

Jumlah penduduk seluruhnya
                                                    
d.     Period Prevalensi

Jumlah kasus penyakit yang selama periode
Periode prevalence = ---------------------------------------------------------- x 1000
Penduduk rata-rata dari periode tersebut
(“mid period population”)

e.      Crude Death Rate (CDT)

Jumlah kematian di kalangan penduduk disuatu daerah dalam satu tahun
CDR = ------------------------------------------------------------------------ x 1000
Jumlah penduduk rata-rata(pertengahan tahun didaerah dan tahun yang sama)

f.       Age Specific Death Rate (angka kematian pada umur tertentu)

Sebagai contoh : pada golongan umur 20-30
Jumlah kematian antara umur 20-30 tahun di suatu daerah dalam waktu satu tahun
Age specific   = ----------------------------------------------------------------------- x 1000
death rate
Jumlah penduduk berumur antara 20-30 tahun pada daerah dan tahun yang sama


g.     Cause Disease Specific Death Rate angka kematian akibat penyakit tertentu

Sebagai contoh : kematian karena TBC
Jumlah kematian karena TBC di daerah
dalam waktu satu tahun
Cause (TB)
Specific Death Rate = ------------------------------------------------------------------  x 1000
Jumlah penduduk rata-rata (pertengahan tahun)
pada daerah dan tahun yang tahun


Share:

Peran Perawat dalam Meningkatkan Mutu Pelayanan Keperawatan Intensif


Peran Perawat dalam Meningkatkan Mutu Pelayanan Keperawatan Intensif

Instalasi Rawat Intensif atau unit perawatan intensif adalah suatu unit perawatan di Rumah Sakit yang khusus mengelola pasien dalam kondisi kritis atau sakit berat, cedera dengan penyulit yang mengancam jiwa, yang membutuhkan tenaga terlatih dengan didukung oleh peralatan khusus . Menurut Te Oh (1990), ICU adalah ruang rawat rumah sakit dengan staf dan perlengkapan khusus ditujukan untuk mengelola pasien dengan penyakit, trauma atau komplikasi yang mengancam jiwa.

Untuk memberikan pelayanan yang bermutu pada pasien rawat intensif, dibutuhkan kerjasama antara profesi dokter, perawat, apoteker, radiografer, analis kesehatan, ahli gizi, fisioterapis, biomedis dan staf pendukung medis di Rumah Sakit. Dalam memberikan pelayanan pada pasien kritis, peran perawat cukup besar untuk mengelola pasien dan bersinergi dengan profesi lain untuk menghasilkan pelayanan yang berkualitas.

Pelayanan keperawatan di ICU merupakan pelayanan yang diberikan kepada pasien dalam kondisi kritis yang mengancam jiwa, sehingga harus dilaksanakan oleh tim terlatih dan berpengalaman di ruang perawatan intensif.

Tujuan keperawatan intensif sesuai Standar Pelayanan Keperawatan di ICU (Dep. Kes. RI , 2006) adalah :
  1. Menyelamatkan nyawa
  2. Mencegah terjadinya kondisi memburuk dan komplikasi melalui observasi dan monitoring yang ketat, disertai kemampuan menginterpretasikan setiap data yang didapat dan melakukan tindak lanjut
  3. Meningkatkan kualitas hidup pasien dan mempertahankan kehidupan
  4. Mengoptimalkan kemampuan fungsi organ tubuh pasien
  5. Mengurangi angka kematian dan kecacatan pasien kritis dan mempercepat proses penyembuhan pasien

Untuk mencapai tujuan tersebut, perawat di unit perawatan intensif perlu bekal ilmu dan pengalaman yang cukup, sehingga kompeten dalam penanganan pasien kritis. Kompetensi teknikal perawat merupakan kompetensi tidak terbatas pada kemampuan melakukan tindakan keperawatan namun lebih penting adalah keterampilan mendapatkan data yang valid dan terpercaya serta keterampilan melakukan pengkajian fisik secara akurat, keterampilan mendiagnostik masalah menjadi diagnosis keperawatan, keterampilan memilih dan menentukan intervensi yang tepat (Rosjidi & Harun, 2011).

Selain mampu melakukan asuhan keperawatan pada pasien kritis, perawat di unit perawatan intensif juga dituntut untuk mampu menjaga mutu pelayanan yang berkulitas. Dalam menjaga mutu pelayanan di unit perawatan intensif, fungsi dan peran perawat sangat besar, karena proses perawatan pasien diantaranya dengan observasi kondisi pasien secara ketat yang dilakukan oleh perawat.

Beberapa peran perawat dalam menjaga mutu pelayanan intensif yaitu : mencuci tangan setiap five moment berinteraksi dengan pasien, mampu mengatasi pasien dalam keadaan gawat secara cepat, menjaga kesterilan setiap alat invasive yang terpasang pada pasien, memonitor pasien yang terpasang alat invasif, mengubah posisi pasien yang tirah baring lama, menjaga keamanan pasien yang beresiko jatuh, merawat pasien dengan luka post operatif, menjaga kesterilan saat melakukan suctioning pada pasien dengan ventilasi mekanik serta memelihara kesterilan selang pada mesin ventilator. Apabila semua staf perawat dapat melaksanakan perannya dengan, mutu pelayanan unit perawatan intensif seperti dibawah ini dapat terjamin :
  1. Memberikan respon time yang cepat dalam penanganan kegawatan
  2. Mencegah terjadinya dekubitus
  3. Menurunkan resiko jatuh
  4. Mencegah terjadinya infeksi akibat kateter vena perifer
  5. Mencegah terjadinya infeksi akibat kateter vena sentral
  6. Mencegah terjadinya infeksi atau reaksi alergi akibat transfusi
  7. Mencegah terjadinya infeksi luka operasi
  8. Mencegah terjadinya infeksi saluran kencing akibat pemasangan catheter urin
  9. Mencegah terjadiya ventilator acquired pneumonia

Kompetensi perawat dalam penanganan pasien kritis dan menjaga mutu pelayanan ini tidak hanya membutuhkan ilmu dan pengalaman yang cukup, namun juga tingkat kepedulian dalam merawat pasien dengan komunikasi yang efektif. Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi perawat dengan pasien, keluarga pasien serta profesi atau unit lain. Perawat wajib berkomunikasi dengan pasien sadar maupun yang tidak sadar pada saat melakukan tindakan keperawatan dan komunikasi penting dilakukan dalam penentuan tingkat kesadaran pasien. Kepada pihak keluarga, perawat perlu mengorientasikan ruangan, kondisi pasien yang berubah-ubah setiap saat dan hal-hal penting lainnya agar informasi tentang pasien diterima dengan baik dan kepuasan keluarga pasien dapat tercapai. Hubungan perawat dengan unit lain atau profesi kesehatan lain juga memerlukan komunikasi dan kerjasama yang baik agar pengelolaan pasien kritis bisa optimal serta sasaran keselamatan pasien dapat tercapai.

Share:

Konsep Dasar ICU ( Intensive Care Unit )


Konsep Dasar ICU ( Intensive Care Unit )

Perawatan intensif yaitu pelayanan keperawatan yg disaat ini amat sangat perlu untuk di kembangkan di Indonesia yg bertujuan memberikan asuhan bagi pasien dengan penyakit berat yg potensial reversibel, memberikan asuhan kepada pasien yg memerlukan pbservasi ketat dengan atau tanpa pengobatan yg tidak bisa diberikan diruang perawatan umum memberikan pelayanan kesehatan bagi pasien dengan potensial atau adanya kerusakan organ umumnya paru mengurangi kesakitan & kematian yg dapat dihindari pada pasien-pasien dengan penyakit kritis (Adam dan Osbone, 1997)
  • Pengertian

Merupakan suatu tempat atau unit tersendiri di dalam Rumah Sakit yg mempunyai staf khusus, peralatan khusus ditujukan untuk menanggulangi pasien gawat lantaran penyakit, trauma atau komplikasi penyakit lain.
  • Staf Khusus

adalah dokter & perawat yg terlatih, berpengalaman dalam Intensive Care (Perawatan & terapi Intensif) & yg bisa memberikan pelayanan 24 jam.
  • Peralatan Khusus ICU

adalah alat–alat pemantauan, alat untuk menopang fungsi vital, alat untuk prosedur diagnostic & alat Emergency yang lain
  • Tujuan Pengelolaan di ICU

  1. Melakukan tindakan buat mencegah terjadinya kematian atau cacat
  2. Mencegah terjadinya penyulit
  3. Menerima rujukan dari level yg lebih rendah dan melakukan rujukan ke level yg lebih tinggi

  • Macam – macam ICU 

Menurut fungsi ICU dibagi menjadi beberapa unsur yakni :

1. ICU Khusus

Dimana dirawat pasien payah & akut dari satu jenis penyakit

Contoh :
  1. ICCU (Intensive Coronary Care Unit) ialah pasien dirawat dengan gangguan pembuluh darah Coroner.
  2. Respiratory Unit Pasien dirawat yg mengalami gangguan pernafasan
  3. Renal Unit dimana pasien yag dirawat dg.gg. ginjal.

2. ICU Umum

Dimana dirawat pasien yg sakit payah akut di semua bagian RS menurut usia ICU anak dan neonatus dipisahkan dengan ICU dewasa

Klasifikasi Pelayanan ICU

1. ICU Primer
  1. Mampu memberikan pengelolaan resusitasi segera, tunjangan,kardio respirasi jangka pendek.
  2. Memantau & mencegah penyulit pasien & bedah yg berisiko.
  3. Ventilasi mekanik & pemantauan kardiovaskuler sederhana selama beberapa jam.
  4. Ruangan dekat dengan kamar bedah.
  5. Kebijakan / criteria pasien masuk, keluar & rujukan.
  6. Kepala : dokter spesialis anestesi.
  7. Dokter jaga 24 jam, mampu RJP.
  8. Konsultan mampu dihubungi & dipanggil setiap saat.
  9. Jumlah perawat cukup & sebagian besar terlatih.
  10. Pemeriksaan Laborat : Hb, Hct, Elektrolit,GD, Trombosit.
  11. Kemudahan Rontgen & Fisioterapi.

2. ICU Sekunder
  1. Memberikan pelayanan ICU umum yg bisa mendukung kedokteran umum, bedah, trauma, bedah syaraf, vaskuler dan sebagainya.
  2. Tunjangan ventilasi mekanik lebih lama.
  3. Ruangan khusus dekat kamar bedah
  4. Kebijakan & kriteria pasien masuk, keluar & rujukan
  5. Kepala intensivis, apabila tidak ada SpAn.
  6. Dokter jaga 24 jam mampu RJP ( A,B,C,D,E,F )
  7. Ratio pasien : perawat = 1 : 1 untuk pasien dengan ventilator,RT & 2 : 1 untuk pasien lainnya.
  8. 50% perawat bersertifikat ICU & pengalaman kerja minimal 3 tahun di ICU
  9. Dapat melakukan pemantauan invasife
  10. Lab, Ro, fisioterapi selama 24 jam

3. ICU Tersier
  1. Memberikan pelayanan ICU tertinggi termasuk juga dukungan hidup multi system ( ventilasi mekanik , kardiovaskuler, renal ) dalam jangka waktu tidak terbatas
  2. Area kusus
  3. Kebijakan/ indikasi masuk, ke luar & rujukan
  4. Kepala : intensivis
  5. Dokter jaga 24 jam, dapat RJP (A,B,C D,E,F )
  6. Ratio pasien : perawat = 1 : 1 untuk pasien dengan ventilator, RT & 2 : 1 untuk pasien lainnya.
  7. 75% perawat bersertifikat ICU atau minimal pengalaman kerja di ICU 3 tahun
  8. Dapat melakukan pemantauan / terapi non invasive maupun invasive.
  9. Laborat, Ro, Fisioterapi selama 24 jam
  10. Memiliki pendidikan medik & perawat
  11. Mempunyai prosedur pelaporan resmi & pengkajian mempunyai staf administrasi, rekam medik & tenaga lain

  • Syarat – syarat Ruang ICU
  1. Letaknya di sentral RS & dekat dengan kamar bedah serta kamar pulih sadar ( Recovery Room)
  2. Suhu ruangan diusahakan 22-25 C, nyaman , energi tidak banyak ke luar.
  3. Tempat tertutup dan tidak terkontaminasi dari luar
  4. Merupakan ruangan aseptic dan ruangan antiseptic dengan dibatasi kaca- kaca.
  5. Kapasitas lokasi tidur di lengkapi alat-alat khusus
  6. Ruang tidur mesti yg beroda & akan diubah dengan segala posisi.
  7. Petugas ataupun pengunjung memakai pakaian khusus apabila memasuki lokasi isolasi.
  8. Tempat dokter dan perawat mesti sedemikian rupa sehingga mudah untuk mengobservasi pasien.

  • Ketenagaan

  1. Tenaga medis
  2. Tenaga perawat yg terlatih
  3. Tenaga Laboratorium
  4. Tenaga non perawat : pembantu perawat , cleaning servis
  5. Teknisi

Sarana dan Prasarana yg mesti ada di ICU

Lokasi : satu komplek dengan kamar bedah dan Recovery Room
RS dengan jumlah pasien lebih 100 orang sedangkan buat R.ICU antara 1-2 % dari jumlah pasien secara keseluruhan.

Bangunan : terisolasi di lengkapi dengan : pasienmonitor, sarana komunikasi, ventilator, AC, pipaair, exhousefan buat mengeluarkan udara, lantai mudah dibersihkan, keras & rata, tempat cuci tangan yg dapat di buka dengan siku & tangan, pengering setelah cuci tangan
  1. R.Dokter dan R. Perawat
  2. R.Tempat buang kotoran
  3. R. tempat penyimpanan barang dan obat
  4. R. tunggu keluarga pasien
  5. R. pencucian alat Dapur
  6. Pengering setelah cuci tangan R.Dokter dan R. Perawat
  7. R.Tempat buang kotoran
  8. R. tempat penyimpanan barang dan obat

Sumber air Sumber listrik cadangan/ generator, emergency lamp Sumber O2 sentral Suction sentral Almari alat tenun dan obat, instrument & sarana KesehatanAlmari pendingin (lemari es)Laborat kecil
Fasilitas –alat penunjang a.l. : Ventilator, Nabulaizer, Jacksion Reese, Monitor ECG, tensimeter mobile, Resusitato, Defibrilator, Termometer electric & manual,Infus pump, Syring pump,O2 transport, CVP, Standart infuse, Trolly Emergency,Papan resusitasi,Matras anti decubitus, ICU kid, Alat SPO2, Suction continous pump dll.
  • Indikasi Masuk ICU

1. Prioritas 1

Penyakit atau gangguan akut pada organ vital yg memerlukan terapi intensif & agresif.
  1. Gangguan atau gagal nafas akut
  2. Gangguan atau gagal sirkulasi
  3. Gangguan atau gagal susunan syaraf
  4. Gangguan atau gagal ginjal

2. Prioritas 2

Pementauan atau observasi intensif secara ekslusif atas keadaan-keadaan yang dapat menimbulkan ancaman gangguan pada sistem organ vital
Misal :
  1. Observasi intensif pasca bedah operasi : post    trepanasi, post open heart, post laparatomy dengan komplikasi,dll.
  2. Observasi intensif pasca henti jantung dalam keadaan stabil
  3. Observasi pada pasca bedah dengan penyakit jantung.

3. Prioritas 3   

Pasien dalam keadaan sakit kritis dan tidak stabil yang mempunyai harapan kecil untuk penyembuhan (prognosa jelek). Pasien kelompok ini mugkin memerlukan terapi intensif untuk mengatasi penyakit akutnya, tetapi tidak dilakukan tindakan invasife Intubasi atau Resusitasi Kardio Pulmoner
NB : Px. prioritas 1 harus didahulukan dari pada prioritas 2 dan 3

Indikasi Keluar ICU
  1. Penyakit atau keadaan pasien telah membaik dan cukup stabil.
  2. Terapi dan perawatan intensif tidak memberi hasil pada pasien.
  3. Dan pada saat itu pasien tidak menggunakan ventilator.Pasien mengalami mati batang otak.
  4. Pasien mengalami stadium akhir (ARDS stadium akhir)
  5. Pasien/keluarga menolak dirawat lebih lanjut di ICU (pl.paksa)
  6. Pasien/keluarga memerlukan terapi yang lebih gawat mau masuk ICU dan tempat penuh.

Prioritas pasien keluar dari ICU
  1. Prioritas I dipindah apabila pasien tidak membutuhkan perawatan intensif lagi, terapi mengalami kegagalan, prognosa jangka pendek buruk sedikit kemungkinan bila perawatan intensif dilanjutkan misalnya : pasien yang mengalami tiga atau lebih gagal sistem organ yang tidak berespon terhadap pengelolaan agresif.
  2. Prioritas II pasien dipindah apabila hasil pemantuan intensif menunjukkan bahwa perawatanintensif tidak dibuthkan dan pemantauan intensif selanjutnya tidak diperlukan lagi.
  3. Prioritas III tidak ada lagi kebutuhan untuk terapi intensive jika diketahui kemungkinan untuk pulih kembali sangat kecil dan keuntungan terapi hanya sedikit manfaatnya misal : pasien dengan penyakit lanjut penyakit paru kronis, liver terminal, metastase carsinoma.

  • Tugas Perawat ICU

  1. Identifikasi masalah
  2. Observasi 24 jam

  • Kardio vaskuler : peredaran darah, nadi, EKG, perfusi periver, CVP
  • Respirasi : menghitung pernafasan , setting ventilator, menginterprestasikan hasil BGA, keluhan dan pemeriksaan fisik dan foto thorax.
  • Ginjal : jumlah urine tiap jam, jumlah urine selama 24 jam
  • Pencernaan : pemeriksaan fisik, cairan lambung, intake oral, muntah , diare
  • Tanda infeksi : peningkatan suhu tubuh/penurunan (hipotermi), pemeriksaan kultuur, berapa lama antibiotic diberikan
  • Mencatat hasil lab yang abnormal.
  • Posisi ETT dikontrol setiap saat dan pengawasan secara kontinyu seluruh proses perawatan
  • Menghitung intake / output (balance cairan)

Selain hal itu peran perawat juga :
  1. Caring Role
  2. Therapeutic Role

Dalam penanganan pasien gawat diperlukan 3 kesiapan :

Siap Mental

Siap pengetahuan dan ketrampilan

Siap alat dan obat

Urutan prioritas penanganan kegawatan didasarkan pada 6B yaitu :

  1. B-1 Breath  – Sistem pernafasan
  2. B-2 Bleed   – Sistem peredaran darah
  3. B-3 Brain    – Sistem syaraf pusat
  4. B-4 Blader  – Sistem urogenital
  5. B-5 Bowel  -Sistem pencernaan
  6. B-6 Bone    – Sistem tulang dan persendian

  • Pasien Kritis

Fisiologis tidak stabil dan memerlukan monitoring serta terapi intensif.

Ruang Lingkup Keperawatan Intensive :
  1. Diagnosis dan penatalaksanaan spesifik penyakit akut yang mengancam nyawa dan dapat menimbulkan kematian dalam beberapa menit sampai beberapa hari
  2. Memberi bantuan dan mengambil alih fungsi vital tubuh sekalipun melakukan pelaksanaan spesifik pemenuhan kebutuhan dasar
  3. Pemantauan fungsi vital tubuh dan penatalaksanaan terhadap komplikasi yang ditimbulkan oleh :

  • Penyakit
  • Kondisi pasien yang memburuk karena pengobatan atau terapi
  • Memberikan bantuan psikologis pada pasien yang tergantung pada fungsi alat / mesin dan orang lain.

Standar minimum pelayanan ICU :
  1. Resusitasi jantung paru.
  2. Pengelolaan jalan nafas
  3. Terapi oksigen
  4. Pemantauan EKG, pulse Oksimetri kontinyu
  5. Pemberian nutrisi enteral dan parental
  6. Pemeriksaan Laboratorium dengan cepat
  7. Pelaksanaan terapi tertitrasi
  8. Memberi tunjangan fungsi Vital selama transportasi
  9. Melakukan fisioterapi.

Share:

Konsep Dasar Keperawatan Gawat Darurat


KONSEP KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

I. Defenisi

Keparawatan gawat darurat adalah pelayanan profesioanal keperawatan yang di berikan pada pasien dengan kebutuhan urgen dan kritis. Namun UGD dan klinik kedaruratan sering di gunakan untuk masalah yang tidak urgen. Yang kemudian filosopi tentang keperawatan gawat darurat menjadi luas, kedaruratan yaitu apapun yang di alami pasien atau keluarga harus di pertimbangkan sebagai hedaruratan

II. Sistem Pelayanan Gawat Darurat

Pelayanan gawat darurat tidak hanya memberikan pelayanan untuk mengatasi kondisi kedaruratan yang di alami pasien tetapi juga memberikan asukan keperawatan untuk mengatasi kecemasan pasien dan keluarga.
Sistem pelayana bersifat darurat sehingga perawat dan tenaga medis lainnya harus memiliki kemampuan, keterampilan, tehnik serta ilmu pengetahuan yang tinggi dalam memberikan pertolongan kedaruratan kepeda pesien.

III. Triage Dalam Keperawatan Gawat Darurat

Yaitu skenario pertolongan yang akan di berikan sesudah fase keadaan pasien. Pasien-pasien yang terancam hidupnya harus di beri prioritas utama. Triage dalam keperawatan gawat derurat di gunakan untuk mengklasifikasian keperahan penyakit atau cidera dan menetapkan prioritas kebutuhan penggunaan petugas perawatan kesehatan yang efisien dan sumber-sumbernya.
Standart waktu yang di perlukan untuk melakukan triase adalah 2-5 menit untuk orang dewasa dan 7 menit untuk pasien anak-anak.

Triase di lakukan oleh perawat yang profesional (RN) yang sudah terlatih dalam prinsip triase, pengalaman bekerja minimal 6 bulan di bagian UGD, dan memiliki kualisifikasi:

- Menunjukkan kompetensi kegawat daruratan
- Sertifikasi ATLS, ACLS, PALS, ENPC
- Lulus Trauma Nurse Core Currikulum (TNCC)
- Pengetahuan tentang kebijakan intradepartemen
- Keterampilan pengkajian yang tepat, dll

IV. Sistem Triase

• Spot check
  25% UGD menggunakan sistem ini, perawat mengkaji dan mengklasifikasikan pasien dalam waktu     2-3 menit. Sisten ini memungkinkan identifikasi segera.

• Komprehensif
  Merupakan triase dasar yang standart di gunakan. Dan di dukung oleh ENA (Emergenci Nurse           Association) meliputi:

• A (Airway)
• B (Breathing)
• C (Circulation)
• D (Dissability of Neurity)
• E ( Ekspose)
• F (Full-set of Vital sign)
• Pulse Oximetry
• Trise two-tier

Sistenm ini memetluhan orang kedua yang bertindak sebagai penolong kedua yang bertugas mensortirpasien untuk di lakukan pengkajian lebih rinci.

• Triase Expanded
  Sistem ini dapat di tambahkan ke sistem komprohensif dan two-tier mencakup protokol penanganan:

1. Pertolongan pertama (bidai, kompres, rawat luka)
2. Pemeriksaan diagnostik
3. Pemberian obat
4. Tes lab (Darah, KGD, Urinalisis, dll)

• Triase Bedside
  Pasien dalam sistem ini tidak di klasifikasikan triasenya, langsung di tangani oleh perawat yang           bertugas, cepat tanpa perlu menunggu antri.

V. KATEGORI/ KLASIFIKASI TRIAS

61% menggunakan 4 kategori pengambilan keputusan yaitu dengan menggunakan warna hartu/status sebagai tanda klasifikasi yaitu Merah (Emergen), kuning (Urgen), hijau (non Urgen), hitam (Expectant)

VI. Merah (Emergent)

Yaitu korban-korban yang membutuhkan stabilisasi segera. Yaitu kondisi yang mengancam kehidupan dan memerlukan perhatian segera.

Contoh:
- Syok oleh berbagai kausa
- Gangguan pernapasan
- Trauma kepala dengan pupil anisokor
- Perdarahan eksternal masif

VII. Kuning (Urgent)

Yaitu korban yang memerlukan pengawasan ketat, tetapi perawatan dapat di tunda sementara. Kondisi yang merupakan masalah medisyang disignifikan dan memerlukan penata laksanaan sesegera mungkin. Tanda-tanda fital klien ini masih stabil.

Contoh :
• Fraktur multiple
• Fraktur femur/pelvis
• Korban dengan resiko syok (korban dengan gangguan jantung, trauma, obdomen berat)
• Luka bakar luas
• Gangguan kesadaran/trauma kepala
• Korban dengan status yang tidak jelas.
Semua korban dengan kategori ini harus di berikan infus, pengawasan ketat terhadap kemungkinan timbulnya komplikasi dan berikan perawatan sesegera mungkin.

VIII. Hijau (Non urgent)

Yaitu kelompok korban yang tidak memerlukan pengobatan atau pemberian pengobatan dapat di tunda. Penyakit atau cidera minor

Contoh :
- Fektur minor
- Luka minor
- Luka bakar minor

IX. Hitam (Expectant)

Korban yang meninggal bunia atau yang berpotensi untuk meninggal dunia
- 6% memakai sistem empat kelas yaitu
1. Kelas1: kritis (mengancam jiwa, ekstremitas, penglihatan atau tindakan segera)
2. Kelas ii: Akut (terdapat perubahan yang signifikan, tindakan segera mungkin)
3. Kelas iii: Urgent (signifikan, tikdakan pada waktu yang tepat)
4. Kelas iv: Non Urgent (tidak terdapat resiko yang perlu segera di tangani)
- 10% digunakan sistem 5 tingkat yaitu

Tingkat contoh :

1 Kritis Segera Henti jantung
2 Tidak stabil 5-15 menit Fraktur mayor
3 Potensial tidak stabil 30-60 menit Nyeri abdomen
4 Stabil 1-2 jam Sinusitis
5 Rutin 4 jam Pengangkatan jahitan

X. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat

Penghajian (PQRST)
- Provokes (pemicu)
- Quality (kualitas)
- Radiation (penyebaran)
- Severity (intensitas)
- Time (waktu)
- Treatment (penanganan)

Ditambah dengan riwayat alergi, obat-obatan terahir, imunisasi, haid terahir,setekah itu baru diklasifikasikan.

Tipsord-Klinkhammer dan Adreoni menganjurkan OLD CART
- Onset of system (awitan gejala)
- Location of Problem (lokasi masalah)
- Duration of Symptoms (karakteristik gejala yang di rasakan)
- Aggraviting Factor (faktor yang memperberat)
- Relieving Factors (faktor yang meringankan)
- Treatment ( penanganan sebekumnya)

XI. Pertimbangan Pengambilan Keputusan Triase

Menurut standart ENA (1999)
- Kebutuhan fisik
- Tumbuh kembang
- Psikososial
- Akses klien dalam institusi pelayanan kes
- Alur pasien dalam kedaruratan

XII. Alur Pasien UGD

- Pastikan keluhan klien (cocokkan apa yang perawat lihat)
- Kaji segera yang penting (HR,jika ada luka dep dengan segera)
- Kaji berdasarkan ABCD
- Kaji awitan yang baru timbul
- Pantau: setiap gejala cendrung berulang atau intensitas meningkat
- Setiap gejala yang di sertai pebahan pasti lainnya
- Kemunduran secara progresif
- Usia
- Awitan
- Misteri
- Kaharusak pasien berbaring
- Kontrol yang ketat

XIII. Diagnosa

Diagnosa keperawatan gawat darurat adalah masakah potensial dan aktual. Tetapi perawat tetap harus mengkaji pasien secara berkala karena kondisi pasien dapat berubah terus-menerus. Diagnosa keperawatan bisa berubah atau bertambah setiap waktu.

XIV. Intervensi/ Implementasi
Intervensi yang di lakukan sesuai dengan pengkajian dan di agnosa yang sesuai dengan keadaan pasien dan harus di laksanakan berdasarkan skal prioritas. Prioritas di tegakkan sesuai dengan tujuan umum dari penata laksanaan kedaruratan yaitu untuk mempertahankan hidup, mencegah keadaan yang memburuk sebelum penanganan yang pasti. Prioritas di tentukan oleh ancaman terhadap kehidupan pasien. Kondisi yang mengganggu fungsi fisiologis vitallebih di utamakan dari pada kondisi luar pasien. Luka di wajah, leher dan dada yang mengganggupertnapasan biasanya merupakan prioritas tinggi.

XV. Prinsip Penatalaksanaan Keperawartan Gawat Darurat

• Memelihara jalan nafas dan menyediakan ventilasi yang adekuat, melakukan resusitasi pada saat         dibutuhkan. Kaji cedera dan obstruksi jalan nafas.
• Kontrol pendarahan dan konsekuensinya.
• Evaluasi dan pemulihan curah jantung
• Mencegah dan menangani syok, memelihara sirkulasi
• Mendapatkan pemeriksaan fisik secara terus menerus, keadaan cedera atau penyakit yang serius dari   pasien tidak statis
• Menentukan apakah pasien dapat mengikuti perintah, evaluasi, ukuran dan aktivitas pupil dan             respon motoriknya.
• Mulai pantau EKG, jika diperlukan
• Lakukan penatalaksanaan jika ada dugaan fraktur cervikal dengan cedera kepala
• Melindungi luka dengan balutan steril
• Periksa apakah pasien menggunakan kewaspadaan medik atau identitas mengenai alergi dan               masalah kesehatan lain.
• Mulai mengisi alur tanda vital, TD dan status neurologik untuk mendapatkan petunjuk dalam menga   mbil keputusan,

XVI. Evaluasi

Setelah mendapat pertolongan adekuat, vital signdievaluasi secara berkala, setelah itu konsulkan dengan dokteratau bagian diagnostik untuk prosedur berikutnya, jika kondisi mulai stabil pindahkan keruangan yang sesuai.

Terimakasih atas kunjungannya, semoga berkenan Untuk Iklan dan Donasinya ke Link ini  :)
Share:

Konsep Dasar Keperawatan Kritis


Konsep Perawatan Kritis

Kritis adalah penilaian dan evaluasi secara cermat dan hati-hati terhadap suatu kondisi krusial dalam rangka mencari penyelesaian/jalan keluar. Keperawatan kritis merupakan salah satu spesialisasi di bidang keperawatan yang secara khusus menangani respon manusia terhadap masalah yang mengancam hidup. Seorang perawat kritis adalah perawat profesional yang bertanggung jawab untuk menjamin pasien yang kritis dan akut beserta keluarganya mendapatkan pelayanan keperawatan yang optimal.

Konsep pelayanan kritis :
  • Tujuan

Untuk mempertahankan hidup (maintaining life).
  • Pengkajian

Dilakukan pada semua sistem tubuh untuk menopang dan mempertahankan sistem-sistem tersebut tetap sehat dan tidak terjadi kegagalan.
  • Diagnosa keperawatan

Ditegakkan untuk mencari perbedaan serta mencari tanda dan gejala yang sulit diketahui untuk mencegah kerusakan/ gangguan yang lebih luas.
  • Perencanaan keperawatan

Ditujukan pada penerimaan dan adaptasi pasien secara konstan terhadap status yang selalu berubah.
  • Intervensi

Ditujukan terapi gejala-gejala yang muncul pertama kali untuk pencegahan krisis dan secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama sampai dapat beradaptasi dengan tercapainya tingkat kesembuhan yang lebih tinggi atau terjadi kematian.
  • Evaluasi

Dilakukan secara cepat, terus menerus dan dalam waktu yang lama untuk mencapai keefektifan masing-masing tindakan/ terapi, secara terus-menerus menilai kriteria hasil untuk mengetahui perubahan status pasien. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan pasien kritis prioritas pemenuhan kebutuhan tetap mengacu pada hirarki kebutuhan dasar Maslow dengan tidak meninggalkan prinsip holistik.
  • Respon individu dan keluarga terhadap pengalaman keperawatan kritis

Penyakit kritis adalah kejadian dramatis emosional yang dialami pasien dan keluarganya. Untuk beberapa situasi tertentu persiapan dari segi psikologis perlu dilakukan. Perawat kritis berada di posisi yang paling tepat untuk memahami kondisi yang dialami pasien dan keluarganya dan membantu mereka untuk beradaptasi dengan situasi yang ada. Gejala fisik dari penyakit kritis yang mengancam jiwa, seperti nyeri tingkat akhir atau perdarahan biasanya disertai dengan respon psikologis dari pasien dan keluarganya, seperti:

1.                  Cemas
2.                  Takut
3.                  Panik
4.                  Marah
5.                  Perasaan bersalah
6.                  Distres spiritual

Respon psikologis tersebut dapat memperburuk gejala-gejala fisik yang diderita pasien.
  • Isu etik dan legal pada keperawatan kritis

Perawat ruang intensif/kritis harus memberikan pelayanan keperawatan yang mencerminkan pemahaman akan aspek etika dan legal keperawatan yang mencerminkan pemahaman akan aspek etika dan legal kesehatan. Perawat ruang kritis harus bekerja sesuai dengan aturan yang ada (standar rumah sakit/standar pelayanan maupun asuhan keperawatan). Etik ditujukan untuk mengukur perilaku yang diharapkan dari manusia sehingga jika manusia tersebut merupakan suatu kelompok tertentu atau profesi tertentu seperti profesi keperawatan, maka aturannya merupakan suatu kesepakatan dari kelompok tersebut yang disebut kode etik.

Status pekerjaan sebagai seorang perawat rumah sakit ataupun bagian dari staf paramedik tidak membuat perawat bisa menghindari tanggung jawab dan kewajiban mematuhi hukum dalam setiap tindakan/pelayanan keperawatan yang dilakukan. Kumpulan hukum/peraturan keperawatan yang telah dikembangkan dikenal sebagai standar pelayanan keperawatan. Standar pelayanan keperawatan ditentukan dengan pengambilan keputusan atas tindakan profesional yang paling tepat dilakukan untuk mengatasi masalah yang ada.
  • Kecenderungan trend dan isu keperawatan kritis

Perkembangan yang pesat di bidang teknologi dan pelayanan kesehatan cukup berkontribusi dalam membuat orang tidak lagi dirawat dalam jangka waktu lama di rumah sakit. Pasien yang berada di unit perawatan kritis dikatakan lebih sakit dibanding sebelumnya. Sekarang ini banyak pasien yang dirawat di unit kritis untuk waktu 5 tahun sudah dapat menjalani rawat jalan di rumah masing-masing. Pasien unit kritis yang ada sekarang ini tidak mungkin bertahan hidup di masa lalu dikarenakan buruknya sistem perawatan kritis yang ada. 

Sudah direncanakan di beberapa rumah sakit akan adanya unit kritis yang lebih besar dan kemungkinan mendapatkan pelayanan perawatan kritis di rumah atau tempat-tempat alternatif lainnya. Perawat kritis harus tetap memantau informasi terbaru dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki untuk mengelola metode dan teknologi perawatan terbaru. Seiring dengan perkembangan perawatan yang dilakukan pada pasien semakin kompleks dan banyaknya metode ataupun teknologi perawatan baru yang diperkenalkan, perawat kritis dipandang perlu untuk selalu meningkatkan pengetahuannya.
  • Referensi

Dossey, B. M., Cathie E.G., Cornelia V. K. (1992). Critical care nursing: body-mind-
spirit. (3rd ed.). Philadelphia: J. B. Lippincott Company.
Emergency Nurses Association. (2000). Emergency Nursing Core Curriculum. (5th ed.).
Philadelphia: W.B. Saunders Company.
Sale, Mary L., Marilyn L.L., Jeanette C.H. ( ). Introduction to critical care nursing.
(3rd ed.). Philadelphia: W. B. Saunders Company.

Share:

Aspek Klinis Kelainan Kongenital dan Penyakit Keturunan


Aspek Klinis Kelainan Kongenital dan Penyakit Keturunan

Konsep Fisiologis

  • Gen dan Kromosom.
  • Gen merupakan factor-faktor keturunan yang terdapat dalam kromosom yang terdiri atas DNA (Deoxyribonukleicacid).
  • Tiap gen mengandung informasi yang disandi dalam bentuk sekuen dari nukleutida.
  • Kromosom merupakan struktur nucleus yang merupakan sel eukariotik terdiri molekul DNA yang berisi gen.
  • DNA terdiri dari dua utas benang polinukleotida yang saling berpilin (double helix=berpilin ganda). Seutas tali nukleotida tersusun atas rangkaian nukleotida yang terdiri dari gugusan gula deoksiribosa, gugusan asam pospat dan gugusan basa nitrogen.
  • Basa nitrogen penyusun DNA terdiri dari basa purin yaitu adenin (A) dan guanin (G), serta basa pirimidin yaitu sitosin (C) dan timin (T).
  • Manusia memiliki 23 pasang Kromosom yang terdiri dari 2 bagian yaitu autosom dan genosom.
  • Autosom yaitu pembawa sifat sebanyak 22 pasang sedangkan genosom yaitu pembawa sifat kelamin sebanyak 1 pasang. Kromosom = 44 A + XY (untuk sperma), 44 A + XX (untuk ovum).
  • Sifat Genom : DNA dan RNA.
  • Asam nukleat yang ada sangkut pautnya dengan sifat hereditas adalah ADN (asam deoksiribo nukleat) dan ARN (asam ribonukleat).
  • DNA dan RNA bertangmgung jawab terhadap sintesis protein serta mengontrol sifat-sifat keturunan


  • Siklus Sel

Sel-sel yang bereproduksi akan menggandakan informasi yang terkandung dalam DNA nya dan kemudian membelah diri untuk menjadi dua sel baru. Siklus sel ini terdiri dari 2 fase : Interfase, saat sel menggandakan DNAnya dan Mitosis, saat sel terbelah menjadi dua.

1. Interfase

Dalam keadaan tidak aktif membelah atau dianggap sebagai stadium istirahat walaupun tejadi saat replikasi DNA dan sintesis protein aktif. Interfase merupakan suatu proses yang memakan waktu antara 10-20 jam.

Interfase dibagi lagi menjadi 3 periode yang berbeda:
Stadium G1, periode pada saat sel beristirahat setelah menjalani mitosis
Stadium G2, periode pada saat sel secara aktif membentuk protein, lemak, dan potongan                     potongan RNA
Stadium S, periode sewaktu terjadi penyalinan DNA

2. Mitosis

Mitosis adalah proses yang jauh lebih singkat dari pada interfase dan berlangsung sekitar satu jam. Sel, yang telah mengalami duplikasi pada interfase, terbelah menjadi dua sel anak yang mengandung 23 pasang kromosom.proses pembelahan mitosis terjadi pada semua sel tubuh makhluk hidup, kecuali pada jaringan yang menghasilkan sel gamet. Mitosis terdiri dari stadium-stadium profase, metafase, anafase, dan telofas.

Profase, adalah stadium dimana strukur-struktur protein (sentriol) yang terdapat disitoplasma sel mulai bergerak disisi atau kutub yang berlawanan didalam sel. Hal ini akan meregangkan membran inti dan menyebabkan pecah.
Metafase, adalah stadium selama kromosom secara jelas tampak menjadi dua set pasangan yang berdampingan satu sama lain di bagian tengah sel. Terdapat mikrotubulus yang memanjang dari sentriol kemasing-masing pasangan kromosom.
Anafase, adalah stadium selama mikrotubulus mulai menarik pasangan kromosom agar terpisah. Satu pasang menuju salah satu kutub sentriol dan pasangan lainnya menuju kutub sentriol yang lain
Telofase, adalah stadium selama sel terbelah ditengahnya dan terbentuk membran inti yang baru di kedua sel baru tersebut yang membungkus ke 23 pasang kromosom (total 46) yang terdapat didalam sel.
  • Meiosis

Meiosis adalah proses dimana sel-sel seks pada ovarium atau testis menghasilkan sel telur atau sperma yang matang. Meiosis melibatkan replikasi DNA dalam seks, diikuti oleh pembelahan dua sel. Terbentuk sel anak , masing-masing hanya memiliki n kromosom yaitu 23 kromosom. Selama pembuahan (fertilisasi), informasi genetik yang terkandung dalam 23 kromosom telur menyatu dengan informasi genetik yang terkandung dalam 23 komosom sperma. Hal ini menghasilkan embrio dengan komosom total 46.
Perbedaan mitosis dan meiosis

No Mitosis Meiosis
1 Satu kali pembelahan Dua kali pembelahan
2 Menghasilkan 2 sel anak Menghasilkan 4 sel anak
3 Jumlah kromosom sel anak sama dengan kromosom sel induk (2 n) Jumlah kromosom sel anak           setengah kromosom sel induk
4 Terjadi di sel tubuh Terjadi di organ reproduksi ( tempat pembentukan sel kelamin
5 Berfungsi untuk perbanyakan sel, pertumbuan, dan perbaikan Berfungsi untuk membentuk sel         kelamin
  • Genotif dan Fenotif

Informasi genetik yang di bawa dalam kromosom sel anak disebut genotif.
Gambaran fisik dari informasi genetik tsb, tinggi/ pendek, gelap/ terang =fenotif

Pewarisan Gen Tunggal
Gen yang menentukan sifat spesifik disebut alel, untuk masing-masing sifat, sebuah gen tunggal memiliki dua alel pengontrol: satu pada kromosom yang berasal dari ibu dan satu pada kromosom yang berasal dari ayah.
Alel Heterezigot dan Homozigot
Apabila seseorang memiliki alel identik maka bersifat homozigot(AA), dan seseorang memiliki alel yang berlainan yang mengkode satu sifat disebut heterozigot(aa).

Pewarisan Multifaktor
Sebagian besar karakteristik fenotif dipengaruhi oleh beberapa gen. Tinggi, Intelegensi, dan karakteristik kepribadian adalah contoh sifat-sifat yang disebut multifaktor.

Konsep Patofisiologis
Mutasi
Mutasi adalah kesalahan dalam sekuen DNA. Mutasi dapat terjadi secara spontan, atau setelah suatu sel terpajan radiasi, bahan kimia tertentu, atau berbagai virus.
Sebagian besar mutasi akan teridentifikasi dan diperbaiki oleh enzim-enzim yang bekerja didalam sel. Apabila tidak terdeteksi atau diperbaiki maka mutasi akan diwariskan kesemua sel anak. Mutasi pada gamet (sel telur/sperma) menyebabkan cacat kongenital pada keturunan.

Penyebab mutasi:
1. mutasi spontan
perubahan secara alamiah yang disebabkan:
  • panas
  • radiasi sinar kornis
  • bantuan radio aktif
  • sinar UV
  • mikroorganisme
  • kesalahan DNA dalam metabolisme

2. mutasi buatan
  • penggunaan senjata nuklir
  • pemakaian bahan kimia, fisika dan biologi
  • penggunaan bahan radioaktif
  • penggunaan roket, televisi,dll

Cacat Kongenital
Cacat atau defek kongenital, disebut juga cacat lahir, mencakup kesalahan genotif serta fenotif dalam embrio atau janin yang sedang tumbuh. Cacat genetik dapat terjadi stabil, kesalahan jumlah kromosom, atau gangguan-gangguan lingkungan.

Pemutusan Kromosom
Suatu kromosom dapat mengalami 3 peristiwa yaitu, pemutusan, bergabung secara tidak normal kekromosom lain, atau dapat lenyap seluruhnya. Hal ini dapat terjadi selama meiosis atau mitosis. Apabila terjadi selama mitosis, maka sel yang terkena biasanya mati. Apabila terjadi selama meiosis di sel telur/sperma, maka timbul cacat kongenital atau kematian pada embrio.
Kesalahan pada Jumlah Kromosom
Biasanya sel somatik memiliki 2n kromosom,tetapi banyak organisme mempunyai susunan kromosom yang jumlahnya lebih atau kurang dari normal.hal tersabut disebabkan penggandaannya tidak benar yang disebut aneusomi.

Contoh: normal = 2n
Monosomi = 2n-1
Nulisomi = 2n-2
Trisomi = 2n+1
Tetrasoni = 2n+2
Perubahan penggandaan dapat terjadi karena terjadinya anafase lag dan nondisjungsi.anafase lag adalah peristiwa tidak melekatnya kromatid pada gelendong sewaktu anafase meiosis 1.adapun nondisjungsi yaitu peristia gagal berpisahnya kromosom homolog pada waktu anafase dari meiosis II.

Cacat kongenital

No Nama penyakit Kelainan jumlah kromosom Ciri- ciri
1 Sindrom turner 2n-1 ( monosomi ) Wanita dengan perkembangan sex terhambat, payudara tidak tumbuh, bertubuh pendek,mandul
2 Sindrom klinefelter 2n+ 1 ( trisomi) Laki- laki dengan kecenderungan seperti wanita, payudara tumbuh, testis tidak tumbuh, dan mental terbelakang
3 Sindrom patau 2n+ 1 ( trisomi )
Pada autosom no. 13, 14, 15 Tanda kelainan jarang ditemukan karena pada umumya penderita mati setelah beberapa jam atau hari dilahirkan
4 Sindrom down 2n+ 1 ( trisomi )
Pada autosom no. 21 Tubuh pendek, terbelakang mental, mata sipit, lidah tebal
5 Sindrom edwards 2n+ 1 ( trisomi ) Wanita normal tetapi ciri- ciri sekunder wanita tidak berkembang, ada yang schizoprenia
Penyakit keturunan
Penyakit keturunan adalah penyakit akibat keabnormalan genetik yang diturunkan oleh orang tuanya. Penyakit menurun tidak menular,tidak dapat disembuhkan dan akan terus diwariskan pada keturunannya. penyakit menurun biasanya bersifat resesif sehingga baru muncul jika dalam keadaan homozigot . dalam keadaan heterozigot,fenotife penyakit tidak muncul karena tertutup oleh gen pasangannya yang dominan. Salah satu contoh kasus buta warna:
B=normal
b=buta warna

Misal wanita carier/pembawa menikah dengan laki-laki normal
XB Xb >< XBY

XB XB , XBY , XBXb , XbY
♀ normal , ♂normal , ♀carier , ♂buta warna
Persentase: 50% normal , 25% carier , 25% buta warna

PENYAKIT MENURUN

NO Nama penyakit Penyebab keterangan
1 Hemofili Tidak dapat memproduksi faktor pembeku darah Luka-luka kecil(lecet,memar) bisa menyebabkan kematian
2 Buta warna Tidak dapat menangkap panjang gelombang cahaya tertentu Buta warna parsial:tidak bisa membedakan biru-hijau,biru-merah dan merah-hijau
3 Albino Tidak adanya pigmen warna melanin Rentan terhadap kanker kulit dan tidak tahan sinar
4 Gangguan mental Kerusakan saraf karena kadar asam fenilpirufat di dalam darah terlalu tinggi

Mekanisme albino

kelainan kromosom dari induk

Tidak adanya gen melanin

Tidak diproduksinya enzim pembentuk melanin

Tidak adanya pigmen melanin

Albino

Mekanisme hemofili

Kelainan kromosom dari induk

Tidak adanya gen pembeku darah

Hemofili

ketika terjadi luka

darah banyak membanjiri luka

terjadi perdarahan hebat

darah banyak terbuang

beresiko kematian
Share:

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Pages

Blog Archive

Translate

Text Widget

Copyright © ILMU KESEHATAN | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com